Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pemerintah merancang kebijakan fiskal yang cukup ekspansif tahun depan. Meski tetap memandang konservatif variabel pasar di tengah badai tarif dan ketidakpastian ekonomi global, risiko pelebaran defisit tetap ada.
“Meski pemerintah berusaha memaksimalkan kontribusi belanja fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, outlook fiskal Indonesia tetap rentan terhadap ketidakpastian global yang tinggi,” kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro di Jakarta, Senin (18/8).
Perlambatan ekonomi Tiongkok dan moderasi harga komoditas menjadi risiko utama di 2026. Di samping itu, kebijakan tarif proteksionis dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menambah tekanan eksternal, meskipun Indonesia berhasil menegosiasikan penurunan potensi tarif impor AS dari 32 persen menjadi 19 persen.
Dalam kebijakan fiskal ekspansif, pemerintah berusaha menjaga pengelolaan anggaran yang prudensial dengan defisit di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Hal itu sebagai upaya mempertahankan kepercayaan investor dalam lingkungan global yang penuh tantangan.
“Sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan sekitar 5,4 persen pada 2026,” ujar Asmo, panggilan akrab Andry Asmoro.
Target inflasi stabil di 2,5 persen year on year (yoy), sementara nilai tukar rupiah diperkirakan melemah menjadi Rp16.500 per USD dari target 2025 sebesar Rp16 ribu per USD.
“Menunjukkan tekanan eksternal kemungkinan masih akan membebani nilai tukar ke depan,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG