Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah dinilai terlalu terfokus pada persoalan politik, mengabaikan kebutuhan utama masyarakat seperti pendidikan dan layanan kesehatan. Alih-alih memperbaiki sistem yang dapat meningkatkan kualitas hidup rakyat, perhatian lebih banyak tercurah pada wacana-wacana politik yang tidak menghasilkan solusi konkret.
Pakar hukum dan politik, Pieter C Zulkifli, menekankan bahwa sebuah bangsa yang tidak memperhatikan kualitas pendidikan dan kesehatan warganya hanya akan menjadi penonton dalam dinamika global. Di saat banyak negara berlomba memajukan sektor kesehatan dan mencetak generasi unggul, Indonesia justru sibuk memperdebatkan isu-isu seperti subsidi UKT dan pemangkasan beasiswa.
Pieter mencontohkan Tiongkok sebagai negara yang kini menjadi sorotan dunia. Ia mengingatkan bahwa tiga dekade lalu, Tiongkok dianggap sebagai negara miskin dan tertinggal. Namun berkat kebijakan jangka panjang dan komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia, negara tersebut kini menjadi kekuatan besar dalam ekonomi dan politik dunia.
Ia menilai bahwa ketergantungan negara-negara terhadap kekuatan global menunjukkan bahwa kebangkitan sebuah peradaban bukanlah angan-angan, asalkan dibangun dengan visi jangka panjang yang terarah dan kebijakan yang konsisten.
”Indonesia sebenarnya memiliki potensi luar biasa—sumber daya alam berlimpah, populasi produktif, dan posisi geografis strategis. Namun kemajuan kita belum signifikan,” ujarnya.
Pieter mengingatkan bahwa kemajuan negara-negara besar selalu dimulai dari dua fondasi penting: sistem pendidikan yang berkualitas dan layanan kesehatan yang merata. Tanpa dua hal ini, pembangunan hanya akan menghasilkan kemajuan semu.
Di tengah kemajuan teknologi, jaringan internet yang luas, dan akses ke media digital yang semakin merata, sayangnya kualitas pendidikan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Anak-anak lebih akrab dengan media sosial daripada buku, yang menunjukkan minimnya dukungan negara terhadap literasi.
”Kelas-kelas yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya gagasan kini digantikan oleh perdebatan kosong di media sosial,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pieter mengkritisi semakin jauhnya akses pendidikan tinggi dari masyarakat. Kenaikan UKT yang tidak terkendali serta pemangkasan anggaran dan program beasiswa membuat perguruan tinggi perlahan berubah menjadi institusi eksklusif yang hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu.
Parahnya lagi, sektor pendidikan dan kesehatan justru tercoreng oleh berbagai kasus yang memprihatinkan, seperti perundungan di dunia pendidikan kedokteran, sikap intoleran di lingkungan akademik, serta diskriminasi dalam layanan kesehatan.
Data dari lembaga internasional pun memperlihatkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam hal pendidikan dan kesehatan, bahkan dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Pieter menekankan bahwa ini bukan sekadar angka statistik, tetapi merupakan peringatan serius bagi para pengambil kebijakan.
Ia pun mendorong agar Indonesia belajar dari semangat Tiongkok—bukan untuk menyalin sistemnya, tetapi meniru semangat dan konsistensinya dalam membangun negara melalui pendidikan dan kesehatan.
”Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengutamakan kecerdasan dan kesehatan rakyatnya. Dari sanalah kekuatan suatu negara sejati bermula,” tutupnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO