Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Penjualan industri ritel menargetkan pertumbuhan 30-50 persen pada Ramadan dan Lebaran tahun ini. Produk fashion dan food & beverage (F&B) bakal memberikan sumbangan paling besar. Namun, realisasi penjualan itu masih dibayangi pembatasan kuota impor dan pembatasan angkutan logistik.
Ketua Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budiharjo Iduansjah optimis penjualan produk ritel akan mencetak angka berlipat. Namun, penyediaan stok barang masih terhambat dengan adanya kuota impor. Pengalaman sebelumnya, barang sudah di stok sejak bulan Januari.
”Tapi saat ini masih ada kekosongan karena sistem kuota yang membatasi jumlah impor,” ujarnya.
Beberapa brand produk tertentu juga akan mengalami keterlambatan distribusi akibat pembatasan angkutan barang pada masa mudik. Pihaknya telah mengajukan permintaan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk memberikan khusus. Agar akses pengiriman barang selama periode Lebaran tetap diperbolehkan tetap jalan.
”Mobil pengiriman sering mengalami pembatasan. Kami meminta koordinasi agar kendaraan yang mengirim barang ritel bisa mendapat privilege untuk tetap beroperasi dengan lancar,” ujar Budiharjo.
Hippindo optimistis Ramadan dan Lebaran tahun ini memberikan dampak positif bagi sektor ritel. THR bagi karyawan diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat. ”THR akan mendorong konsumsi masyarakat. Namun, tantangannya adalah memastikan stok barang, terutama produk impor, tetap tersedia,” pungkasnya.
Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah menegaskan bahwa secara historis, konsumsi rumah tangga selalu naik saat Ramadan dan Lebaran. Peningkatan konsumsi rumah tangga tersebut didorong oleh penjualan ritel dan mobilitas masyarakat saat mudik Lebaran.
Seperti pada Maret 2024, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 235,4, tumbuh 9,3 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dari pertumbuhan IPR Februari 2024 yang hanya sebesar 6,4 persen. Peningkatan kinerja penjualan eceran terjadi pada sub kelompok sandang yang tumbuh sebesar 20,6 persen (yoy). Diikuti sub kelompok suku cadang yang tumbuh 17,3 persen (yoy) dan kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 10,4 persen.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), secara nasional pergerakan selama arus mudik dan balik Lebaran 2024 mencapai 193,6 juta orang atau setara dengan 71,7 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengalami peningkatan dari Lebaran 2023 mencapai 123,8 juta orang atau setara dengan 46 persen dari total penduduk.
”Bahkan saat Ramadan dan Lebaran pada masa pandemi, itu konsumsi naik. Jadi secara historis memang pada bulan Ramadan dan Lebaran itu konsumsi akan naik dan itu akan diproyeksikan akan terjadi juga pada tahun ini,” tegas Piter. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO