Buka konten ini

BATAM (BP) – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) belum menemukan bukti adanya pengambilan maupun penyalinan data peserta Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Batam. Berdasarkan hasil investigasi sementara, pola serangan siber yang terjadi justru diduga lebih mengarah pada upaya menimbulkan kepanikan di tengah proses penerimaan siswa baru.
Penyelidikan atas dugaan serangan siber terhadap sistem SPMB Kota Batam masih terus berlangsung. Hingga kini, pemerintah juga belum dapat memastikan identitas pelaku di balik percobaan peretasan yang sempat memicu keresahan di kalangan calon peserta didik dan orangtua.
Kasus tersebut mencuat setelah beredar klaim di media sosial yang menyebut sebanyak 1.495 data peserta SPMB diduga bocor. Informasi itu dengan cepat menyebar dan memunculkan kekhawatiran bahwa data pribadi calon peserta didik beserta orangtua telah jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.
Namun, hasil pemeriksaan sementara menunjukkan tidak ditemukan bukti yang menguatkan klaim tersebut.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batam, Rudi Panjaitan, mengatakan penanganan insiden dilakukan bersama Government Computer Security Incident Response Team (Gov-CSIRT) dan BSSN.
Menurutnya, hingga saat ini identitas pelaku belum dapat dipastikan secara mutlak.
”Tim Gov-CSIRT dan BSSN menyampaikan bahwa pelaku percobaan insiden siber tersebut tidak dapat dipastikan secara mutlak,” kata Rudi kepada Batam Pos, Senin (13/7).
Rudi menjelaskan, hasil pemeriksaan digital menggunakan teknologi Endpoint Detection and Response (EDR) juga belum menemukan indikasi bahwa data peserta didik berhasil diambil atau disalin oleh pihak luar.
”Berdasarkan hasil EDR hingga saat ini, tidak ditemukan bukti atau indikasi adanya pengambilan data oleh pihak yang tidak berwenang. Ini merupakan penjelasan dari Tim BSSN RI,” ujarnya.
Berdasarkan analisis sementara, pola serangan tersebut diduga lebih bertujuan menciptakan kepanikan di tengah pelaksanaan SPMB dibandingkan mencuri data.
Menurut Rudi, modus seperti itu kerap ditemukan dalam berbagai insiden siber. Pelaku menyebarkan narasi seolah-olah sistem telah diretas atau data telah bocor untuk memancing keresahan masyarakat. Kondisi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem, menyebarkan informasi palsu, hingga membuka peluang penipuan melalui tautan palsu, pesan yang mengatasnamakan instansi tertentu, maupun permintaan verifikasi data.
”Kalau dari pola percobaannya, memang tujuannya untuk menimbulkan kepanikan bagi para pelajar yang sedang mencari tujuan sekolahnya,” katanya.
Untuk memperkuat keamanan sistem, BSSN telah memasang perangkat Endpoint Detection and Response (EDR) pada aplikasi yang mengelola data publik, termasuk sistem SPMB. Teknologi tersebut berfungsi memantau aktivitas mencurigakan secara real time, mendeteksi malware, serta memberikan peringatan dini apabila terjadi percobaan serangan siber.
”Alat pendeteksi EDR yang diperuntukkan mendeteksi aktivitas malware dan berbagai insiden siber lainnya sudah dipasang BSSN RI pada aplikasi yang bersentuhan dengan penggunaan data publik,” ujar Rudi.
Sebelumnya, dugaan kebocoran data SPMB Kota Batam mencuat pada pertengahan Juni 2026 setelah beredar klaim mengenai dugaan bocornya 1.495 data peserta. Menindaklanjuti informasi tersebut, BSSN bersama Kementerian Komunikasi dan Digital, Dinas Pendidikan, serta Diskominfo Kota Batam melakukan audit forensik digital untuk memastikan apakah data benar-benar berhasil diakses atau dikuasai pihak yang tidak berwenang.
Hingga kini, hasil pemeriksaan lanjutan masih menunjukkan belum ditemukan bukti adanya pengambilan data peserta. Meski demikian, investigasi digital tetap berlanjut untuk mengungkap pelaku dan memastikan keamanan sistem SPMB tetap terjaga. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO