
INDONESIA dan Singapura menegaskan komitmen menjaga Selat Malaka dan Selat Singapura tetap aman, terbuka, dan bebas dilalui seluruh kapal sesuai ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Kesepakatan itu menjadi salah satu hasil penting dalam Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Senin (6/7).
Komitmen tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keamanan jalur pelayaran internasional setelah memanasnya situasi di Timur Tengah. Bagi Indonesia dan Singapura yang sama-sama menjadi negara pesisir (littoral states), Selat Malaka merupakan jalur perdagangan strategis yang harus tetap terjamin keamanannya.
“Kami sepakat memastikan Selat Malaka dan Selat Singapura tetap aman, terbuka, dan dapat digunakan oleh semua pihak,” ujar Wong.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia berkepentingan menjaga Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional yang bebas dan aman.
“Kita akan terus berkoordinasi dengan Malaysia dan Thailand untuk memastikan, sesuai UNCLOS 1982, Selat Malaka selalu terbuka bagi semua, aman, dan dapat diakses siapa pun yang memerlukannya,” kata Prabowo.
Menurut Presiden, tantangan di Selat Malaka tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan pertahanan, tetapi juga ancaman pencemaran laut sehingga diperlukan koordinasi erat antarnegeri pesisir.
Selain isu keamanan maritim, pertemuan tahunan kedua pemimpin menghasilkan 26 kesepakatan strategis, terdiri atas 18 kerja sama antarpemerintah dan delapan kerja sama antarpelaku usaha. Kerja sama itu mencakup sektor energi, investasi, ekonomi digital, keamanan siber, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pertahanan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Kerja sama ini akan menguntungkan rakyat Indonesia dan Singapura serta berkontribusi terhadap stabilitas dan kemakmuran Asia Tenggara,” ujar Prabowo.
Salah satu kesepakatan penting ialah implementasi perdagangan listrik lintas batas. Pemerintah Indonesia menunjuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai pelaksana kerja sama tersebut.
Proyek itu ditargetkan mampu mewujudkan perdagangan listrik komersial hingga 3,4 gigawatt pada 2035 sekaligus mendukung pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
Di sektor energi, kedua negara juga akan memperluas kerja sama proyek tenaga surya di Morowali, Sulawesi Tengah, serta memperkuat konektivitas sistem kelistrikan.
Presiden Prabowo juga menyampaikan kerja sama kedua negara dilakukan untuk bidang ekonomi digital, ekosistem digital dan keamanan siber, selain kolaborasi di dalam bidang pangan dan rantai pasok serta di sektor keamanan, konektivitas, wisata, pendidikan dan kepemudaan.
“Kerja sama yang baik ini akan menguntungkan tidak hanya rakyat Indonesia dan rakyat Singapura, tapi akan menyumbang stabilitas, pertumbuhan, dan kemakmuran di seluruh Asia Tenggara,” ujar Prabowo Subianto.

Latihan Militer
Kerja sama pertahanan juga diperkuat melalui pembaruan implementasi Defence Cooperation Agreement (DCA). Indonesia dan Singapura sepakat menjajaki pengembangan daerah latihan militer bersama di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja, Sumatra Selatan, kawasan latihan udara Siabu, Riau, serta Kalimantan Barat.
Menurut Wong, fasilitas latihan tersebut akan memberi manfaat bagi kedua angkatan bersenjata sekaligus memperkuat hubungan strategis kedua negara.
Dalam kesempatan itu, Wong juga menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Prabowo sejak menjabat Menteri Pertahanan yang dinilai berperan mempererat hubungan antara TNI dan Singapore Armed Forces (SAF).
Selain pertahanan, kedua negara juga memperkuat kerja sama pada sektor pendidikan melalui program pertukaran pelajar, pengembangan UMKM, investasi kawasan industri, pengembangan energi hijau, hingga transformasi digital.
Keseluruhan kerja sama tersebut diharapkan semakin mempererat hubungan Indonesia-Singapura sekaligus memperkuat stabilitas kawasan di tengah dinamika geopolitik global.
Menuju 60 Tahun Hubungan Diplomatik
Prabowo berharap hubungan Indonesia dan Singapura semakin erat menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.
Menurutnya, pembahasan dalam Leaders’ Retreat tidak hanya difokuskan pada penyelesaian persoalan saat ini, tetapi juga untuk memperkuat kemitraan jangka panjang.
Presiden menegaskan kedua negara sepakat menyelesaikan setiap perbedaan pandangan melalui dialog terbuka sebagai sahabat.
“Kalau ada perbedaan atau salah persepsi, kita sepakat menyelesaikannya secara terbuka sebagai sahabat,” ujar Prabowo. (Antara)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK