Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Realisasi investasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan I 2026 mencapai Rp23,80 triliun. Amerika Serikat (AS) dan Jepang berhasil masuk dalam lima besar negara penyumbang investasi terbesar, menggantikan posisi Malaysia dan Taiwan yang sebelumnya masuk jajaran investor utama pada 2025.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kepri, Hasfarizal Handra, mengatakan capaian tersebut menunjukkan tren investasi yang positif dan memberikan optimisme terhadap pencapaian target tahunan.
Dari total investasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang Rp14,05 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp9,75 triliun.
”Capaian ini telah memenuhi sekitar 49 persen dari target daerah sebesar Rp48 triliun pada 2026 dan 28 persen dari target nasional sebesar Rp86 triliun,” kata Hasfarizal, Jumat (19/6).
Menurutnya, struktur investasi asing di Kepri masih didominasi Singapura sebagai mitra investasi utama. Selanjutnya disusul Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.
Selain didominasi sektor jasa dan manufaktur, terutama industri logam dasar serta mesin dan elektronik, investasi juga mulai mengalir ke sektor listrik, gas, dan air yang menunjukkan penguatan pembangunan infrastruktur pendukung industri.
”Konsistensi komposisi sektor pada triwulan I 2026 menunjukkan keberlanjutan minat investor terhadap sektor-sektor unggulan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, investasi PMDN masih didominasi sektor listrik, gas dan air, industri kimia dan farmasi, perumahan, kawasan industri dan perkantoran, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perdagangan dan reparasi.
Hasfarizal menambahkan, pada 2025 lalu realisasi investasi Kepri mencapai Rp64,68 triliun, terdiri dari PMA sebesar Rp43,44 triliun dan PMDN Rp21,24 triliun. Sebaran investasi masih terkonsentrasi di kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, dan Karimun (BBK).
Salah satu kontributor penting investasi di Kepri berasal dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang di Kabupaten Bintan. Sepanjang 2025, kawasan tersebut mencatat realisasi investasi sekitar Rp15,6 triliun.
Pada triwulan I 2026, investasi yang masuk ke KEK Galang Batang mencapai sekitar Rp4,08 triliun atau sekitar 71 persen dari total realisasi investasi Kabupaten Bintan yang sebesar Rp5,8 triliun.
Kepala Administrator KEK Galang Batang, Vita Budhi Sulistyo, mengatakan saat ini terdapat 26 perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut dan mayoritas merupakan perusahaan PMA asal Tiongkok dengan PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) sebagai penggerak utama.
Menurutnya, proyek terbesar yang tengah berjalan adalah pembangunan dan penyelesaian pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) tahap kedua yang ditargetkan meningkatkan kapasitas produksi hingga sekitar 4 juta ton per tahun.
Selain itu, sejumlah investasi baru juga tengah dipersiapkan, mulai dari pembangunan industri kaustik soda, fasilitas smelter hingga pembangkit listrik. ”Smelter nantinya akan dibangun dengan bahan baku bauksit yang berasal dari Kalimantan Barat,” ujar Vita.
Keberadaan KEK Galang Batang juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Hingga triwulan I 2026, kawasan tersebut telah menyerap lebih dari 5.000 pekerja.
Untuk memastikan kepatuhan perusahaan, pihak pengelola bersama Disnakertrans Kepri, Disnaker Bintan, BPJS Ketenagakerjaan, dan BPJS Kesehatan membentuk klinik kepatuhan yang bertugas memastikan perusahaan memenuhi seluruh ketentuan ketenagakerjaan.
Dengan capaian investasi yang terus meningkat dan masuknya investor baru dari berbagai negara, Pemerintah Provinsi Kepri optimistis target investasi tahun 2026 dapat tercapai, sekaligus memperkuat posisi Kepri sebagai salah satu tujuan investasi. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO – MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY