Buka konten ini

HUJAN dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kota Batam sejak Selasa (9/6) siang menyebabkan sejumlah ruas jalan di berbagai wilayah tergenang air. Kondisi tersebut mengganggu arus lalu lintas dan membuat sejumlah kendaraan melintas dengan kecepatan rendah.
Sejumlah titik yang terdampak di antaranya kawasan Mukakuning, Seibeduk, Batuaji, serta Jalan Ahmad Yani, tepatnya pada jalur dari arah Panbil menuju Kepri Mall. Di beberapa lokasi, genangan bahkan sempat membuat kendaraan roda dua mengalami gangguan saat melintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan genangan air menutupi sebagian badan jalan. Meski demikian, arus lalu lintas masih terpantau berjalan, namun pengendara harus lebih berhati-hati untuk menghindari risiko kecelakaan maupun kendaraan mogok.
Salah seorang warga, Arifin, mengatakan genangan di kawasan tersebut bukan hal baru. Setiap kali hujan turun dengan durasi cukup lama, air kerap menggenangi badan jalan akibat kapasitas saluran drainase yang dinilai belum memadai.
“Hampir setiap hujan jalan ini memang selalu sedikit banjir. Salah satu penyebabnya karena got atau saluran pembuangan air di sekitar sini cukup kecil,” ujarnya.
Selain faktor drainase, kondisi kontur jalan yang lebih rendah dibandingkan area sekitarnya juga diduga menjadi penyebab air mudah menggenang saat curah hujan tinggi.
Meski menimbulkan genangan, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir juga membawa dampak positif bagi ketersediaan air baku di Batam. Sejumlah waduk yang menjadi sumber utama pasokan air bersih sebelumnya mengalami penurunan volume akibat cuaca panas berkepanjangan. Tambahan air hujan diharapkan dapat membantu meningkatkan kembali kapasitas tampungan waduk serta menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Namun demikian, warga berharap pemerintah dapat melakukan pembenahan sistem drainase di sejumlah titik rawan genangan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap kali hujan turun.
“Pelebaran jalan harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas drainase. Kalau tidak, genangan akan terus terjadi setiap kali hujan turun,” kata Arifin.
Hujan deras yang mengguyur Batam sejak siang juga berdampak lebih luas di sejumlah kawasan lain. Di Mukakuning, genangan air dilaporkan merendam badan Jalan Ahmad Yani hingga setinggi lutut orang dewasa. Kondisi tersebut membuat arus kendaraan tersendat dan sejumlah sepeda motor mengalami mogok saat melintas.
Wahyu, warga yang melintas di lokasi, mengatakan banjir kali ini cukup mengganggu aktivitas masyarakat. Selain ketinggian air yang cukup tinggi, kondisi jalan juga licin dan dipenuhi lumpur.
“Airnya cukup tinggi, sampai lutut orang dewasa. Banyak kendaraan yang memilih berhenti karena takut mogok. Kondisi jalan juga licin dan berlumpur,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi tersebut diperparah oleh proyek pelebaran jalan yang tengah berlangsung di kawasan tersebut. Material tanah dari proyek terbawa air hujan dan menutup sebagian badan jalan serta saluran drainase.
“Karena ada proyek pelebaran jalan, banyak lumpur yang terbawa air hujan. Akibatnya genangan jadi lebih lama surut dan jalan semakin sulit dilalui,” katanya.
Selain Mukakuning, banjir juga terjadi di ruas Jalan R. Suprapto, Batuaji, khususnya di sekitar SPBU Simpang Basecamp. Genangan air di lokasi tersebut sempat menyebabkan kemacetan panjang hingga arus kendaraan dari dua arah nyaris lumpuh.
Tomi, warga Batuaji, mengatakan persoalan banjir di kawasan itu sudah terjadi bertahun-tahun tanpa penanganan yang tuntas.
“Setiap hujan deras pasti banjir. Ini bukan masalah baru, sudah bertahun-tahun terjadi. Sampai sekarang belum ada perbaikan drainase yang benar-benar menyelesaikan masalah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi terparah biasanya terjadi pada sore hari saat arus lalu lintas meningkat akibat jam pulang kerja.
“Kalau sore lebih parah lagi karena banyak pekerja pulang. Kendaraan menumpuk, air tinggi, akhirnya macet panjang. Banyak motor yang mogok di tengah jalan,” katanya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem drainase di titik-titik rawan banjir agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan di Batam. (***)
Reporter : M SYA’BAN – YOFI YUHENDRI
Editor : GALIH ADI SAPUTRO