Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan seorang investor program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluapkan kemarahan di kantor Badan Gizi Nasional (BGN). Pria dalam video tersebut diduga merupakan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Gizi Indonesia (APGI) 3T, Herwil J Harefa.
Video yang ramai beredar di TikTok itu memunculkan berbagai spekulasi. Narasi yang menyertai unggahan menyebut sejumlah investor dapur MBG wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mendatangi kantor BGN untuk meminta kejelasan terkait investasi yang telah mereka keluarkan.
Belakangan terungkap, aksi protes tersebut terjadi di tengah kebijakan baru BGN yang menghentikan sementara atau memoratorium pendaftaran dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Kebijakan itu diambil setelah pergantian pimpinan BGN menyusul kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG yang menjerat mantan Kepala BGN Dadan Hindayana beserta dua wakilnya.
Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang mengakui kebijakan tersebut memicu keberatan dari sejumlah investor, terutama mereka yang sudah lebih dahulu membangun fasilitas dapur di wilayah 3T.
“Untuk 3T kami akan mencoba mengurangi penggunaan APBN. Tetapi tadi sebelum kami ke sini sudah didemo oleh investor yang sudah membangun dapur di 3T,” ujar Nanik usai pelantikannya di Istana Kepresidenan, Senin (8/6).
Menurut Nanik, moratorium dilakukan sebagai bagian dari penataan ulang program MBG. Saat ini BGN memilih memfokuskan anggaran pada optimalisasi dapur yang sudah beroperasi, peningkatan kualitas menu, serta penyesuaian jumlah penerima manfaat.
Ia menjelaskan, untuk memperluas cakupan layanan di daerah 3T ke depan, BGN akan mencoba memanfaatkan berbagai skema pendanaan alternatif di luar APBN. Di antaranya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN, perusahaan swasta, maupun dukungan hibah.
“Kami akan selesaikan bagaimana sebaiknya. Untuk wilayah yang belum digarap investor, kami akan mencoba kerja sama dengan CSR BUMN, perusahaan swasta, atau sumber pendanaan lainnya,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal APGI 3T, Gardian Muhammad, membenarkan bahwa sosok yang terlihat dalam video viral tersebut merupakan Ketua Umum APGI 3T. Namun, ia menegaskan tindakan tersebut merupakan reaksi spontan yang muncul di tengah tekanan dan ketidakpastian yang dirasakan para investor.
“Kami memahami bahwa potongan video yang beredar dapat menimbulkan persepsi negatif. Namun perlu ditegaskan bahwa kejadian tersebut adalah reaksi spontan di tengah tekanan dan ketidakpastian yang telah berlangsung cukup lama,” ujarnya.
Gardian menjelaskan, investor dan pengelola dapur MBG di wilayah 3T saat ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perubahan kebijakan yang terjadi dalam waktu singkat hingga belum adanya kepastian mengenai skema pembiayaan dan pengembalian investasi.
Menurut dia, saat ini terdapat sekitar 1.200 dapur MBG di wilayah 3T yang telah dibangun dengan nilai investasi rata-rata Rp 1,5 miliar per unit. Dengan jumlah tersebut, total investasi yang sudah ditanamkan diperkirakan mencapai Rp 1,8 triliun.
Besarnya nilai investasi itu, kata Gardian, membuat para investor khawatir apabila tidak ada kepastian mengenai kelanjutan program dan mekanisme pengelolaannya.
Meski demikian, ia menegaskan peristiwa yang terjadi di kantor BGN tidak sampai menimbulkan kerusakan maupun tindakan kekerasan. Situasi disebut tetap terkendali dan dapat diselesaikan dengan baik.
Gardian juga menepis anggapan bahwa APGI 3T menentang program MBG. Sebaliknya, asosiasi tersebut ingin program unggulan pemerintah itu tetap berjalan dengan baik, namun dibarengi kepastian regulasi dan perlindungan terhadap investasi yang telah terlanjur dikeluarkan para pelaku di lapangan.
“Kami tidak sedang melawan program pemerintah. Kami justru ingin program ini berhasil. Namun keberhasilan itu harus ditopang oleh kepastian, keadilan, dan konsistensi kebijakan,” tegasnya. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK