Buka konten ini

BATAM (BP) – Jemaah haji Kloter 1 Debarkasi Batam dijadwalkan menjadi rombongan pertama yang kembali ke Tanah Air pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Kepulangan perdana tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin (1/6) sore melalui Bandara Internasional Hang Nadim Batam.
Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Batam yang juga Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Syafii, mengatakan, seluruh proses pemulangan jemaah telah dipersiapkan agar berjalan lancar dan aman.
“Insyaallah, Gubernur Kepri dijadwalkan menyambut langsung kepulangan jemaah haji Kloter 1 di Asrama Haji Batam,” ujarnya, Jumat (29/5).
Menurut Syafii, Kloter 1 Debarkasi Batam akan kembali menggunakan maskapai Saudi Arabian Airlines (Saudia) dengan nomor penerbangan SV 5120. Pesawat yang membawa rombongan jemaah dijadwalkan tiba di Bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 16.30 WIB setelah menempuh penerbangan dari Bandara Jeddah, Arab Saudi.
Kloter 1 merupakan gabungan jemaah asal Kepulauan Riau dengan total 439 jemaah ditambah enam petugas haji.
Rinciannya terdiri dari 225 jemaah asal Batam, 144 jemaah asal Tanjungpinang, 43 jemaah asal Bintan, dan 27 jemaah asal Lingga. Adapun, Ketua Kloter 1 dipercayakan kepada Asril Arif.
Dalam rombongan tersebut, jemaah tertua tercatat atas nama Yunu Katutu berusia 83 tahun dengan nomor manifest 71. Sedangkan jemaah termuda adalah Thalihah Noor berusia 18 tahun dengan nomor manifest 72.
Embarkasi Batam sendiri pada musim haji tahun ini melayani pemberangkatan dan pemulangan jemaah dari empat provinsi, yakni Kepulauan Riau, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Total sebanyak 10.945 jemaah diberangkatkan melalui Embarkasi Batam yang terbagi dalam 25 kelompok terbang (kloter).
Di sisi lain, PPIH Embarkasi Batam juga mencatat tujuh jemaah wafat selama pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Rinciannya empat jemaah asal Riau, satu jemaah asal Kalimantan Barat, satu jemaah asal Kepulauan Riau, dan satu jemaah asal Jambi.
PPIH berharap seluruh proses pemulangan jemaah haji Debarkasi Batam dapat berjalan lancar hingga seluruh kloter kembali ke daerah masing-masing dengan selamat.
Sementara itu, jutaan jemaah haji dari berbagai negara mulai meninggalkan Mina setelah menyelesaikan rangkaian lontar jumrah dan mengambil nafar awal.
Sejak Jumat (29/5) dini hari waktu Arab Saudi, arus kepulangan jemaah menuju Kota Makkah terlihat padat dan nyaris tanpa henti.
Jalan-jalan di sekitar Jamarat mengalami kemacetan akibat padatnya pergerakan jamaah yang membawa barang bawaan dari Mina menuju hotel masing-masing di Makkah.
Nafar awal merupakan pilihan bagi jemaah untuk mengakhiri mabit di Mina pada 12 Zulhijah dan kembali ke Makkah sebelum matahari terbenam.
Jika jemaah masih berada di Mina atau area Jamarat setelah matahari terbenam, maka mereka diwajibkan mengambil nafar tsani dan kembali mabit semalam lagi di Mina. Wakasatgas Mina, Zaenal Muttaqin, mengatakan mayoritas jemaah haji Indonesia tahun ini memilih mengambil nafar awal.
“Untuk jemaah yang meninggalkan Mina dari nafar awal ini kurang lebih sekitar 68 persen atau 132.568 jamaah,” ujarnya.
Jumlah tersebut setara dengan 424 kloter dari total 527 kloter jemaah haji Indonesia tahun ini.
Zaenal menjelaskan, jemaah yang mengambil nafar awal diminta sudah bergerak meninggalkan Mina maksimal pukul 14.00 waktu Arab Saudi agar dapat tiba di Makkah sebelum matahari terbenam.
“Kalau melewati batas waktu terbenam matahari, meskipun dijadwalkan nafar awal, mereka harus melanjutkan mabit di Mina dan mengambil nafar tsani,” katanya.
Sejumlah jemaah mengaku bersyukur telah melewati fase mabit di Mina yang dikenal menjadi salah satu fase paling melelahkan dalam rangkaian ibadah haji.
“Alhamdulillah, kami sudah mengambil nafar awal,” ujar Reni Kustanti, jemaah asal Nganjuk.
Ia mengaku pelayanan selama di Mina cukup baik dengan fasilitas tenda dan makanan yang memadai.
Hal serupa disampaikan Kasmilah Ngateman, jemaah asal Kediri berusia 76 tahun.
Ia mengaku bersyukur masih diberi kesempatan menunaikan ibadah haji meski harus dibantu proses badal lontar jumrah karena kondisi fisik yang sudah lanjut usia.
“Wis syukur, mpun sepuh saget nekani timbalane Allah (Bersyukur, sudah tua bisa datang memenuhi panggilan Allah/berhaji),” ujarnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA – JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK