Buka konten ini

FINAL Liga Champions 2026 bukan sekadar duel dua tim raksasa, melainkan pertemuan dua pelatih dengan akar yang sama—Mikel Arteta dan Luis Enrique—yang kini siap adu taktik membawa Arsenal dan Paris Saint-Germain berjaya di Puskas Arena, Budapest.
Keduanya pernah berada dalam lingkar pertemanan yang sama di FC Barcelona. Namun, jalan karier membawa Arteta sempat dipinjamkan ke PSG pada 2001. Kini, takdir mempertemukan kembali dua “murid” filosofi Barcelona itu di panggung tertinggi Eropa.
Luis Enrique—akrab disapa Lucho—tak menutupi kekagumannya kepada Arteta.
Menurutnya, kesamaan filosofi, terutama dalam penguasaan bola, membuat laga final dipastikan berlangsung ketat.
“Arteta adalah pelatih yang sangat saya sukai. Ini akan menjadi pertandingan sulit, tetapi kami percaya dengan gaya bermain kami,” ujar Enrique.
Sebaliknya, Arteta menilai Enrique sebagai sosok pelatih dengan keyakinan kuat yang menjadi fondasi kesuksesan PSG dalam beberapa musim terakhir.
Duel ini juga menegaskan dominasi pelatih asal Spanyol di kompetisi Eropa musim ini. Sebelumnya, Unai Emery sukses membawa Aston Villa menjuarai Liga Europa, sementara Inigo Perez mencetak sejarah dengan Rayo Vallecano di Liga Konferensi Europa.
Emery bahkan menilai kedua pelatih finalis layak berada di partai puncak. Arsenal datang dengan status juara Premier League, sedangkan PSG tetap dominan di Ligue 1.
Di luar taktik, aroma finansial juga mewarnai final. Setiap pemain Arsenal disebut akan menerima bonus sekitar USD 238 ribu jika juara. Jumlah itu masih jauh di bawah bonus pemain PSG yang mencapai EUR 1 juta per orang dari internal klub.
Sorotan lain tertuju pada kiper PSG, Matvey Safonov. Jika dimainkan, ia berpeluang menjadi pemain Rusia pertama yang tampil di final Liga Champions dalam lebih dari dua dekade, sejak era Dmitri Alenichev bersama FC Porto pada 2004.
Meski demikian, Safonov juga berada di bawah tekanan. Mantan kiper Arsenal Graham Stack menyebutnya sebagai salah satu titik lemah PSG, setelah kebobolan 12 gol dalam 10 penampilan Liga Champions musim ini.
Dengan latar belakang filosofi yang sama, gengsi besar, hingga taruhan sejarah, final ini bukan hanya soal siapa juara—tetapi siapa yang paling mampu menerjemahkan ide sepak bola modern menjadi kemenangan. (***)
Laporan : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO