Buka konten ini

BATAM (BP) – Rangkaian awal puncak ibadah haji 1447 Hijriah resmi dituntaskan para jemaah haji Indonesia. Setelah menjalani wukuf di Arafah pada Selasa (26/5) dan mabit di Muzdalifah, sejak Rabu (27/5) pagi waktu Arab Saudi, jemaah mulai melaksanakan lontar jumrah aqabah di Mina.
Prosesi lontar jumrah aqabah yang dilanjutkan tahalul awal menandai sebagian besar larangan ihram telah gugur bagi jemaah, kecuali hubungan suami istri. Untuk menyempurnakan tahalul, jemaah masih harus menuntaskan tawaf ifadah sebagai bagian dari tahalul tsani.

Pelaksanaan wukuf di Arafah berlangsung relatif tertib. Pengaturan penempatan jemaah di tenda dinilai lebih baik dengan minim keluhan dari jemaah. Meski antrean toilet masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, terutama menjelang salat dan dimulainya wukuf, sejumlah layanan lain justru mendapat apresiasi dari jemaah.
“Banyak sekali makanannya. Ini bawa bekal semuanya enggak kemakan karena yang diberi banyak sekali,” ujar Sunanik, jemaah Kloter SUB 37 asal Lamongan.
Menjelang matahari terbenam, para jemaah keluar dari tenda dan memanjatkan doa sambil menghadap kiblat hingga berakhirnya wukuf. Setelah salat Magrib, jemaah mulai diberangkatkan menuju Muzdalifah untuk menjalani mabit. Sebagian jemaah memanfaatkan waktu di Muzdalifah untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.
Namun tidak seluruh jemaah menjalani mabit reguler. Puluhan ribu jemaah berkebutuhan khusus mengikuti skema murur, yakni mabit di Muzdalifah tanpa turun dari bus sebelum langsung menuju Mina. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah lansia, disabilitas, jemaah sakit, serta para pendampingnya.
Menjelang dini hari, jemaah mulai digeser menuju Mina menggunakan bus hingga sekitar pukul 06.30 waktu Arab Saudi. Setelah menempatkan barang di tenda masing-masing, jemaah bergerak menuju Jamarat untuk melaksanakan lontar jumrah aqabah.
Lautan manusia tampak memenuhi jalanan Mina menuju Jamarat. Diperkirakan sekitar 1,6 juta jemaah dari berbagai negara bergerak bersamaan untuk melaksanakan ritual tersebut. Kepadatan itu menyebabkan sebagian jemaah mengalami kelelahan, tersesat, bahkan tertinggal dari rombongannya.
Salah satunya dialami Misno Pusan Ahmad, jemaah asal Sampang yang tergabung dalam Kloter SUB 67. Ia terpisah dari rombongan usai melontar jumrah dan ditemukan dalam kondisi kelelahan di salah satu terowongan Mina.
“Tadi habis lontar jumrah, lalu tertinggal oleh rombongan,” ujarnya dengan wajah letih. Misno kemudian mendapat bantuan dari petugas perlindungan jemaah (Linjam) yang menghubungi ketua rombongannya untuk melakukan penjemputan.
Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak meminta seluruh petugas haji tetap bersiaga penuh selama masa mabit dan lontar jumrah di Mina hingga akhir hari tasyrik pada Sabtu (30/5).
Menurutnya, fase di Mina menjadi salah satu titik paling krusial dalam layanan haji karena berlangsung lebih lama dibandingkan fase Arafah maupun Muzdalifah.
Ia meminta seluruh satuan tugas yang berada di Mina memaksimalkan pelayanan kepada jemaah. “Menyebarlah di lapangan, datangi semua jemaah,” ujar Dahnil.
Ia juga meminta seluruh petugas memberikan respons cepat terhadap berbagai keluhan maupun kebutuhan jemaah selama berada di Mina.
“Mohon kerahkan juga kekuatan untuk membantu satgas di Mina,” katanya.
Dahnil memastikan jajaran Kementerian Haji dan Umrah RI juga akan turun langsung memantau pelayanan di lapangan selama fase puncak haji berlangsung.
“Kami akan memaksimalkan fungsi-fungsi kami untuk mendampingi jemaah,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK