Buka konten ini

BATAM (BP) – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya berdampak pada kenaikan harga oli dan ban kendaraan. Berbagai komponen kendaraan lainnya, mulai dari baut hingga suku cadang kecil, juga ikut mengalami kenaikan harga akibat penyesuaian dari distributor.
Pelaku usaha bengkel di Batam menyebut hampir seluruh kebutuhan servis kendaraan mengalami kenaikan dalam satu hingga dua bulan terakhir. Kondisi tersebut dipicu tingginya ketergantungan spare part terhadap produk impor yang terdampak langsung oleh penguatan dolar AS.
Wayan, salah seorang pemilik bengkel di kawasan Tiban, Sekupang, mengatakan kenaikan harga kini terjadi hampir pada seluruh jenis komponen kendaraan.
“Selain oli dan ban, sekarang baut-baut kecil juga naik. Memang tidak terlalu besar, ada yang naik Rp5 ribu sampai Rp15 ribu, tapi hampir semua barang ikut naik,” ujarnya, Minggu (24/5).
Menurut dia, distributor terus melakukan penyesuaian harga seiring naiknya biaya impor barang otomotif. Akibatnya, bengkel tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
“Iya, karena spare part rata-rata impor. Jadi kalau dolar naik, otomatis harga dari distributor juga ikut naik,” katanya.
Hal senada disampaikan Wahyudi, pemilik bengkel motor di Sekupang. Ia menyebut hampir seluruh komponen kendaraan mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.
“Komponen motor semua naik, tidak ada yang tidak naik,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, kenaikan harga spare part secara menyeluruh mulai memberatkan baik pelaku usaha maupun konsumen. Meski demikian, pelanggan tetap datang melakukan servis karena kendaraan sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Pelanggan tetap servis karena motor dipakai setiap hari. Tapi memang sekarang biaya servis terasa lebih mahal,” katanya.
Pelaku usaha bengkel berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menekan lonjakan harga spare part dan kebutuhan otomotif agar daya beli masyarakat tetap terjaga serta aktivitas usaha bengkel tidak terganggu.
Di sisi lain, fenomena kenaikan harga oli dan spare part juga ramai dibahas di media sosial secara nasional. Akun Instagram @bushcoo menyebut harga kebutuhan bengkel naik cukup signifikan dalam beberapa minggu terakhir.
“Harga kebutuhan bengkel saat ini berkisar antara 20 hingga 30 persen,” tulis akun tersebut.
Kenaikan paling terasa terjadi pada harga oli mesin. Jika sebelumnya oli dijual sekitar Rp55 ribu, kini harganya disebut mencapai Rp75 ribu. Tak hanya oli, sejumlah komponen lain seperti ban, baut, hingga vanbelt juga mengalami kenaikan akibat membengkaknya biaya impor dan distribusi.
Kondisi tersebut turut dirasakan konsumen. Biaya servis motor yang sebelumnya berkisar Rp150 ribu kini bisa mencapai Rp250 ribu, terutama jika disertai penggantian oli dan komponen lain.
Sejumlah warganet juga mengaitkan kenaikan harga pelumas dengan situasi geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi distribusi minyak dunia.
“Setahu saya bukan karena rupiah anjlok, tapi karena efek perang Iran-Amerika. Base oil negara kita masih impor,” tulis akun @hmahardik***.
Sementara akun @riannr*** mengaku terkejut saat mengetahui harga oli kini ikut melonjak.
“Pantesan kaget kemarin servis di bengkel. Kirain bengkelnya yang mahal, ternyata memang olinya yang naik,” tulisnya. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK