Buka konten ini

WASHINGTON (BP) – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan segera meneken perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Salah satu poin utama dalam rancangan kesepakatan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz sehingga memungkinkan Iran kembali menjual minyak ke pasar internasional sekaligus membuka ruang negosiasi terkait program nuklir Teheran.
Dilansir dari Axios melalui ANTARA, Minggu (24/5), usulan perdamaian yang masih dalam tahap finalisasi itu disebut dapat diumumkan paling cepat akhir pekan ini.
Seorang pejabat Amerika Serikat yang mengetahui rancangan perjanjian menyebut kesepakatan tersebut masih berpeluang berubah sebelum resmi diteken.
Menurut rancangan nota kesepahaman yang disiapkan, Iran akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal melintas tanpa pungutan bea lintas.
Sebagai imbalannya, Washington disebut akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran serta memberikan pelonggaran sanksi sementara yang memungkinkan Teheran menjual minyak secara bebas selama 60 hari.
Pejabat AS menyebut skema tersebut sebagai performance-based relief atau keringanan berbasis komitmen.
“Pencabutan tekanan ekonomi dilakukan berdasarkan komitmen Iran, bukan diberikan langsung di awal,” ujar pejabat AS tersebut.
Rancangan kesepakatan juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir serta membuka perundingan mengenai penghentian pengayaan uranium dan penyerahan stok uranium yang telah diperkaya.
Pembahasan mengenai pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri juga akan dilakukan selama masa gencatan senjata berlangsung.
Selama masa gencatan senjata 60 hari itu, pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah tetap berada di posisinya dan baru akan ditarik setelah tercapai perjanjian permanen. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim kesepakatan damai dengan Iran hampir selesai. “Kesepakatan itu sebagian besar telah dinegosiasikan,” kata Trump, Sabtu (23/5).
Perjanjian tersebut juga dikaitkan dengan upaya penghentian konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Di sisi lain, sejumlah negara Arab dan Islam mendukung jalur diplomasi antara Washington dan Teheran, termasuk Pakistan.Bahkan, negara itu disebut memainkan peran penting sebagai mediator untuk perdamaian tersebut. “Saya mengucapkan selamat kepada Presiden Donald Trump atas upayanya untuk mencapai perdamaian,” ujar Perdana Menteri Pakistan Shahbaz Sharif. (*)
Reporter : JP GROUP – ANTARA
Editor : RATNA IRTATIK