Buka konten ini

BATAM (BP) – Ratusan pelaku industri pariwisata di Kepulauan Riau mulai menyusun strategi untuk memperkuat sektor wisata di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam dan wilayah sekitarnya.
Ratusan pelaku industri pariwisata di Kepulauan Riau mulai menyusun strategi memperkuat sektor wisata di tengah meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam dan wilayah sekitarnya. Kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai justru menjadi peluang bagi daerah perbatasan seperti Batam untuk menarik lebih banyak wisatawan asing, khususnya dari Singapura dan Malaysia.
Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) pertama Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Provinsi Kepulauan Riau yang digelar di Ayola Hotel, Batam, Selasa (19/5). Kegiatan tersebut dihadiri pelaku usaha pariwisata dari berbagai sektor, mulai dari perhotelan, biro perjalanan, pemandu wisata, transportasi, rumah makan, hingga pengelola destinasi wisata.
Ketua ASPPI Kepulauan Riau, Justitia Primadonna Ghazaly, mengatakan Rakorda tersebut menjadi momentum memperkuat kolaborasi antar pelaku industri pariwisata di daerah. ASPPI mengusung tema “KISS” yang merupakan singkatan dari kolaborasi, inovasi, sinergi, dan sinkronisasi.
“Rapat ini kami adakan untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku pariwisata sekaligus mengevaluasi program yang sudah berjalan dan menyerap masukan anggota untuk pengembangan organisasi ke depan,” ujar Justitia yang akrab disapa Donna.
Kegiatan diawali dengan peninjauan fasilitas Ayola Hotel yang diproyeksikan menjadi lokasi agenda besar ASPPI pada September 2026. Dalam agenda tersebut, ASPPI berencana menggelar business to business (B2B) atau Travelmart yang mempertemukan seller dan buyer jasa pariwisata.
Menurut Donna, Travelmart tersebut akan menjadi pelaksanaan keempat yang digelar ASPPI dan rutin diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Forum itu dinilai penting untuk memperluas jaringan bisnis pariwisata sekaligus mempromosikan potensi wisata Kepulauan Riau ke pasar yang lebih luas.
“Travelmart ini mempertemukan seller dan buyer di sektor pariwisata. Harapannya bisa membuka peluang kerja sama baru dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Batam dan Kepri,” ujarnya.
ASPPI, kata dia, merupakan organisasi yang mewadahi seluruh pelaku industri pariwisata, tidak hanya agen perjalanan wisata, tetapi juga sektor perhotelan, transportasi wisata, restoran, hingga pengelola destinasi.
Secara nasional, ASPPI telah terbentuk di 23 provinsi dengan sekitar 4.000 anggota. Untuk DPD Kepri, tercatat 63 anggota, sementara DPC sementara berjumlah 15 anggota.
Dalam kesempatan itu, Justitia juga mengungkapkan ASPPI tengah memperluas struktur organisasi di Kepulauan Riau melalui pembentukan DPC Bintan–Tanjungpinang yang saat ini telah terbentuk secara administratif dan direncanakan segera dilantik.
Selain agenda formal, Rakorda juga diisi kegiatan fun game untuk mempererat hubungan antaranggota. Menurut Justitia, soliditas pelaku usaha menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata daerah.
Ia optimistis prospek pariwisata Batam dan Kepulauan Riau akan terus membaik. Peningkatan kunjungan wisatawan dari Singapura dan Malaysia mulai terlihat dari naiknya tingkat okupansi hotel dalam beberapa pekan terakhir.
“Dengan kondisi dolar yang tinggi, wisatawan mancanegara justru semakin tertarik datang ke Indonesia. Kunjungan dari Singapura dan Malaysia mulai ramai, dan okupansi hotel juga cenderung meningkat setiap minggu,” kata dia.
Ia menambahkan, kenaikan harga tiket transportasi tidak terlalu memengaruhi minat wisatawan asing berkunjung ke Batam. Kedekatan geografis Batam dengan negara tetangga tetap menjadi daya tarik utama yang menopang pertumbuhan pariwisata di wilayah perbatasan tersebut. (*)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO