Buka konten ini

2. Anak-anak bermain dan belajar memanfaatkan fasilitas wifi gratis seusai pulang sekolah di Saung Dome Awi Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
3. Warga duduk mengantre di dekat poster informasi desa di Kantor Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
4. Warga mencetak dokumen kependudukan di Anjungan Dukcapil Mandiri di Kantor Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. FOTO-FOTO: NOVRIAN ARBI
SEMBURAT sinar matahari pagi kala itu menembus awan dan terasa hangat di kawasan Cibiru Wetan, sebuah desa yang berada di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Desa tersebut berjarak sekitar 15 km dari Gedung Sate, Kota Bandung dan 40 km dari pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung di Soreang dengan wilayah seluas 3,25 Km persegi yang dihuni sedikitnya 15.966 jiwa.
Secara administrasi kependudukan yang dilansir dari portal desa, sekitar 26 persen warga di desa tersebut masih berstatus pelajar dan mahasiswa. Keberadaan generasi muda yang memiliki kedekatan dengan teknologi serta kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan era digital tersebut dianggap mampu menjadi modal dan potensi dalam pengembangan desa di masa mendatang.
Kondisi tersebut dianggap senada dengan tuntutan zaman yang semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kepada masyarakat. Sehingga perlu adanya sebuah tonggak inovasi untuk masa depan dengan mulai melakukan digitalisasi terhadap pelayanan publik desa.
Perlahan-lahan inovasi itu diwujudkan oleh Kepala Desa Cibiru Wetan Hadian Supriatna sejak terpilih pada tahun 2019 lalu. Pemanfaatan teknologi digital dan akses internet sebagai kemudahan pelayanan publik bagi masyarakat menjadi fokus utama sehingga menjadi representatif desa digital di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Pada tahap awal, Hadian Supriatna melakukan penguatan jaringan internet dengan memberikan wifi gratis di area kantor desa beserta fasilitas publiknya seperti Saung Dome Awi yang menjadi pusat aktivitas warga desa, dan di sejumlah titik balai Rukun Warga.
Lalu, dengan tujuan mempermudah pelayanan warga, aplikasi SimpelDesa pun lahir sebagai jawaban. Aplikasi ini ada sebagai implementasi dalam kemudahan pengurusan surat menyurat warga ke pemerintah desa. Kemudahan pelayanan warga juga terasa dengan penggunaan teknologi mesin Anjungan Dukcapil Mandiri. Mesin tersebut berfungsi dalam mencetak KTP elektronik, kartu keluarga, dan kartu identitas anak (KIA) tanpa perlu datang ke kantor Disdukcapil Kabupaten di Soreang yang berjarak sekitar 40 km dari desa. Tidak puas hanya sampai di situ, kolaborasi antara perangkat desa pun akhirnya menciptakan aplikasi pusat informasi desa yakni Superplatform Bale Desa. Terdapat sejumlah fitur yang berisi nomor kontak darurat yang terintegrasi langsung ke nomor pelayanan melalui aplikasi Whatsapp.
Aplikasi tersebut juga memudahkan warga berkomunikasi secara langsung dan cepat serta menjadi tempat warga mencari informasi layanan seperti kesehatan, hukum, hingga transparansi anggaran. Semua hal tersebut diterapkan sebagai keterbukaan informasi publik atas kinerja pemerintah desa.
Terakhir, demi menjaga dan terciptanya ketahanan pangan, sistem aplikasi Smartfarming seperti aplikasi SI-KuWaT (Sistem Informasi Kelompok Usaha Wanita Tani) pun diciptakan sebagai aplikasi yang mendukung kelompok perempuan dalam pertanian warga.
Selain itu, aplikasi tersebut juga diselaraskan dengan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Mawa Raharja sebagai kemudahan di bidang ekonomi dan ketahanan pangan. Sejumlah hasil bumi, kerajinan dan produk UMKM dimasukkan ke dalam fitur aplikasi untuk kemudahan warga berbelanja secara dalam jaringan. Semua aplikasi tersebut untuk saat ini dibuat bagi warga pengguna gawai berbasis Android. (Antara)
Reporter : NOVRIAN ARBI
Editor : AGNES DHAMAYANTI