Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Realisasi belanja negara pada kuartal I 2026 mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Belanja pemerintah pusat mencatat pertumbuhan paling signifikan, yakni 47,7 persen YoY menjadi Rp610,3 triliun.
Sebaliknya, realisasi transfer ke daerah justru mengalami penurunan sebesar 1,1 persen YoY menjadi Rp204,8 triliun. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan realisasi belanja pada tahun ini tergolong cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada triwulan I ini, belanja sudah mencapai 21,2 persen dari target APBN. Bandingkan dengan tahun lalu yang hanya 17,1 persen, dengan pertumbuhan sebesar 1,4 persen,” kata Juda di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4).
Di sisi lain, pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5 persen YoY, setara dengan 18,2 persen dari target APBN. Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target APBN, tumbuh 14,3 persen YoY.
Sementara itu, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN, namun mengalami penurunan sebesar 3 persen YoY.
Dengan kinerja tersebut, defisit APBN pada kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pada kesempatan yang sama, Juda menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 diperkirakan mencapai 5,5 persen YoY berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan.
Ia optimistis proyeksi tersebut dapat tercapai seiring percepatan belanja pemerintah serta membaiknya sejumlah indikator konsumsi domestik, seperti yang tercermin dalam Mandiri Spending Index (MSI).
Selain itu, penerimaan dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) juga mengalami peningkatan signifikan, yakni sebesar 57,7 persen YoY menjadi Rp155,6 triliun. Hal ini mengindikasikan adanya penguatan aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi maupun transaksi dunia usaha.
“Tren penguatan sudah terlihat sejak September pada triwulan IV tahun lalu. Namun, pada Maret terdapat sedikit pelemahan, terutama pada ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah,” ujar Juda. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI