Buka konten ini

ANAMBAS (BP) – Penemuan puing yang diduga bagian dari badan pesawat di perairan Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, masih menyisakan tanda tanya. Hingga kini, identitas serta asal-usul benda tersebut belum dapat dipastikan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, puing yang memiliki lambang bendera Tiongkok itu telah diamankan oleh TNI Angkatan Laut. Evakuasi dilakukan menggunakan KRI Tengku Umar 385 pada Selasa (21/4).
Selanjutnya, puing tersebut dibawa ke Jakarta untuk menjalani observasi lebih lanjut guna memastikan jenis dan asalnya.
Namun hingga saat ini, pihak TNI AL belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi ke sejumlah satuan, mulai dari Lanal Tarempa, Koarmada I, hingga Koarmada IV Batam, juga belum membuahkan hasil.
Di sisi lain, Humas Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Anambas, Hambibi, membenarkan adanya penemuan benda tersebut di laut.
Ia menjelaskan, objek itu pertama kali ditemukan oleh seorang pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Kabupaten Anambas, Andrija Sakaita, saat hendak pergi memancing.
Peristiwa itu terjadi di perairan Desa Kiabu, Kecamatan Siantan Selatan, pada Senin (20/4) sekitar pukul 17.30 WIB.
“Yang bersangkutan sedang dalam perjalanan untuk memancing. Belum sampai tujuan, tiba-tiba melihat objek mengambang di tengah laut yang membuatnya penasaran,” ujar Hambibi, Rabu (22/4).
Karena penasaran, Andrija kemudian mendekati benda tersebut. Dari pengamatannya, objek itu menyerupai serpihan badan pesawat.
Ia pun mendokumentasikan temuan tersebut sebagai bahan laporan kepada pihak berwenang.
“Dia tidak bisa menarik benda itu karena sendirian di laut. Kondisi laut juga kurang bersahabat dan hari mulai gelap, sehingga berisiko,” jelas Hambibi.
Setelah dilaporkan, informasi mengenai penemuan puing tersebut dengan cepat menyebar di tengah masyarakat. Sejumlah warga bahkan mengaitkannya dengan fenomena cahaya terang yang sempat terlihat melintas di langit malam sekitar dua minggu lalu. Meski demikian, dugaan keterkaitan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY