Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Pemerintah dan pelaku usaha di kawasan Asia Tenggara mulai bergerak cepat mengantisipasi potensi krisis energi setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz masih tertutup. Situasi tersebut terjadi di tengah dampak konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang memicu gangguan pasokan minyak dunia.
Meski berjarak ribuan kilometer dari Teluk Persia, dampaknya sudah mulai terasa di sejumlah negara Asia Tenggara. Pemerintah Filipina, misalnya, menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan bagi pegawai pemerintah untuk menghemat energi.
Sementara itu, otoritas di Thailand dan Vietnam mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah serta mengurangi perjalanan. Pemerintah Myanmar bahkan menerapkan sistem berkendara bergantian bagi kendaraan warga.
Selain langkah penghematan, sejumlah pemerintah juga mulai turun langsung mengendalikan harga bahan bakar. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, misalnya, mengumumkan kebijakan batas harga sementara untuk solar.
Di Vietnam, pemerintah mulai memanfaatkan dana stabilisasi harga bahan bakar untuk menahan lonjakan harga energi.
Direktur sekaligus ekonom utama Asia Decoded di Singapura, Priyanka Kishore, mengatakan langkah-langkah tersebut merupakan upaya awal untuk mengantisipasi gangguan pasokan jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama.
“Mereka mencoba mengelola situasi pasokan sebelum benar-benar berdampak besar pada ekonomi,” ujarnya.
Padahal, meski memiliki sejumlah sumber energi fosil, negara-negara Asia Tenggara masih sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Sebagian besar pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan sekitar 84 persen minyak mentah dan 83 persen gas alam cair (LNG) yang melintasi selat itu pada 2024 dikirim ke negara-negara Asia.
China, India, Jepang, dan Korea Selatan menjadi tujuan utama sekitar 70 persen pengiriman minyak. Sementara sekitar 15 persen lainnya mengalir ke negara-negara Asia lainnya.
Ekonom dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) di Jakarta, Alloysius Joko Purwanto, menyebut Filipina, Thailand, Malaysia, dan Brunei termasuk negara yang paling rentan terhadap gangguan pasokan minyak mentah.
Keempat negara tersebut masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 60 hingga 95 persen kebutuhan minyak mereka. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO