Buka konten ini

LINGGA (BP) – Empat unit bus sekolah milik Pemerintah Kecamatan Singkep hingga kini belum dapat dioperasikan pada tahun 2026. Meski kondisi kendaraan masih baik, keterbatasan sopir serta anggaran operasional menjadi penyebab utama bus tersebut belum kembali melayani pelajar.
Camat Singkep, Agustiar, mengatakan anggaran bahan bakar yang tersedia saat ini sangat terbatas. Dana yang ada hanya cukup digunakan untuk memanaskan mesin secara berkala agar kondisi kendaraan tetap terjaga.
“Mesin bus dipanaskan dua hari sekali untuk mencegah kerusakan. Langkah itu dilakukan agar kendaraan tetap siap digunakan jika anggaran dan sopir sudah tersedia,” ujar Agustiar, Senin (9/3).
Sebelumnya, sopir bus sekolah tersebut merupakan tenaga harian lepas. Namun sebagian besar dari mereka kini telah diangkat menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) sehingga tidak lagi bertugas di Kecamatan Singkep.
“Hingga saat ini kami belum memiliki pengganti yang bisa mengemudikan bus tersebut. Kondisi ini membuat seluruh bus sementara tidak dijalankan,” ujarnya.
Agustiar menjelaskan, jika hanya satu bus yang dioperasikan, dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan di masyarakat. Karena itu, diputuskan untuk sementara seluruh bus tidak beroperasi.
Meski demikian, pihak kecamatan membuka peluang apabila komite sekolah atau pemerintah desa ingin mengelola bus tersebut. Namun, hal itu harus disertai kesiapan dari pihak desa maupun orang tua murid, terutama terkait pembiayaan operasional.
“Kami membuka peluang jika pihak desa atau komite sekolah ingin mengelola bus tersebut. Tentunya harus ada kesiapan operasional,” tuturnya.
Ia juga menyebut kondisi ini tidak terlepas dari defisit anggaran daerah. Sejumlah anggaran terpaksa digeser agar pelayanan di kantor kecamatan tetap berjalan.
Pemerintah kecamatan pun meminta para orang tua murid untuk bersabar. Diharapkan kondisi keuangan daerah ke depan membaik sehingga layanan transportasi sekolah dapat kembali dioperasikan. (*)
Reporter : Vatawari
Editor : GUSTIA BENNY