Buka konten ini

PEMBANGUNAN Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berlangsung. Untuk tahap pertama, pengerjaan telah memasuki tahap akhir.
Sampai dengan 18 Februari 2026, progres penyelesaian mencapai rata-rata 96,08 persen dari total 65 lokasi. Sebanyak 42 lokasi di antaranya bahkan telah diselesaikan secara penuh (100 persen).
Sementara itu, pembangunan KNMP Tahap II yang mencakup 35 lokasi masih dalam fase konstruksi. “Target kita menyelesaikannya pada bulan Mei 2026,” kata Staf Khusus Menteri KKP Doni Ismanto Darwin, kemarin (21/2).
Dalam pembangunan, KKP menghadapi beberapa kendala utama. Antara lain, cuaca ekstrem di wilayah pesisir, keterbatasan akses untuk mendistribusikan material ke lokasi terpencil, serta kebutuhan penyesuaian teknis di lapangan agar infrastruktur yang dibangun sesuai dengan kebutuhan nelayan. Namun, Doni menegaskan bahwa seluruh kendala tersebut dapat dimitigasi dan diselesaikan secara bertahap.
Setelah pembangunan selesai, operasionalisasi KNMP akan mengedepankan kelembagaan nelayan dengan pola pengelolaan kolaboratif dan sinergis. Kelembagaan yang terlibat meliputi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Koperasi Nelayan eksisting berbasis korporasi nelayan, serta Kelompok Usaha Bersama (KUB). “Prinsip yang menjadi fokus adalah keberlanjutan, produktivitas serta integrasi dengan sistem rantai pasok dan hilirisasi hasil perikanan, “ terang Doni.
Selesainya pembangunan KNMP diharapkan memberikan dampak positif yang signifikan bagi para nelayan. Program ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha nelayan, memperbaiki kualitas hasil tangkapan, serta memperkuat akses pasar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan, mendorong perputaran ekonomi lokal, dan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir.
Ketua Tim Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan KNMP Trian Yunanda menjelaskan, pembangunan 65 kampung pada tahap I tahun 2025 menggunakan anggaran sebesar Rp 1,34 triliun. Saat ini pihaknya sedang mengajukan anggaran ke Kementerian Keuangan untuk pembangunan 35 kampung lainnya agar target pembangunan 100 KNMP pada tahun 2025 dapat tercapai.
Rincian sarana dan prasarana yang dibangun dalam program ini meliputi fasilitas produksi seperti dermaga, gedung beku, pabrik es, shelter coolbox, dan bengkel kapal. Ada juga fasilitas pendukung seperti balai pelatihan, pusat UMKM dan pasar ikan, sentra kuliner, stasiun pengisian bahan bakar minyak khusus nelayan, ruang ibadah, tempat pengelolaan sampah, serta kantor pengelolaan.
Dengan selesainya pembangunan 100 lokasi KNMP, produksi perikanan akan meningkat menjadi rata-rata 800 ton per tahun. Selain itu, mampu menyerap tenaga kerja permanen sebanyak 7.000 orang.
Target 1.100 Kampung pada 2027
Pembangunan KNMP telah ditetapkan sebagai program prioritas yang mendapatkan perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Program ini memiliki target ambisius untuk menjangkau 1.100 kampung nelayan pada tahun 2027. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap setiap tahun.
“Target pengembangan hingga 1.000 KNMP menjadi bagian dari visi jangka menengah untuk transformasi kampung nelayan secara nasional,” ujar Doni.
Sebagai bagian dari tahapan pengembangan tahunan, KKP telah membuka pendaftaran lokasi untuk tahun 2026 dengan batas akhir pengajuan pada tanggal 28 Februari 2026.
Setelah masa pendaftaran berakhir, tim khusus akan melakukan proses verifikasi menyeluruh untuk memastikan setiap calon lokasi memenuhi kriteria yang ditetapkan, termasuk aspek legalitas, keamanan, serta adanya dukungan yang jelas dari masyarakat sekitar lokasi yang diusulkan.
“Saat ini sudah lebih dari 1.100 data yang kami dapatkan. Proses verifikasi masih kami lakukan secara bertahap, khususnya bagi usulan yang telah didaftarkan sejak akhir tahun lalu,” jelasnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program pada tahun 2026, telah teralokasikan anggaran KNMP sebesar Rp 5,5 triliun. Anggaran tersebut diperuntukkan pembangunan 1.000 lokasi KNMP yang akan dipilih. Saat ini proses analisis terhadap anggaran dan kebutuhan masing-masing lokasi masih berlangsung. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO