Buka konten ini

MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Kepala Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengungkapkan sebanyak 29 desa dan kampung di Pulau Sumatera dinyatakan hilang akibat bencana banjir bandang dan longsor.
Desa-desa tersebut tersebar di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Hal itu disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Pascabencana Sumatera yang digelar di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
“Yang hilang ini perlu ada penyelesaian. Ada 29 desa yang hilang karena terbawa longsor atau terkena banjir,” ujar Tito dalam paparannya.
Ia merinci, sebanyak 21 desa dan kampung yang hilang berada di Provinsi Aceh, meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Nagan Raya, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Sementara delapan desa lainnya berada di Provinsi Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.
“Untuk Sumatera Barat tidak ada desa yang hilang,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tito juga menyampaikan perkembangan jumlah pengungsi yang terus berangsur menurun. Dari sebelumnya lebih dari dua juta jiwa, kini tersisa sekitar 12.944 orang yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian di Aceh dan Sumatera Utara.
Berdasarkan data Satgas, bencana di Sumatera berdampak pada 52 kabupaten/kota, 491 kecamatan, dan 4.511 desa.
Tito memastikan Provinsi Sumatera Barat saat ini sudah tidak memiliki pengungsi. Sebelumnya, wilayah tersebut mencatat 16.164 pengungsi.
“Untuk Sumatera Barat, pengungsi sekarang sudah nol dari sebelumnya 16.164 orang. Sebagian besar sudah kembali ke rumah dan menerima bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan maupun sedang,” jelasnya.
Sementara rumah rusak berat atau hilang masih ditempati melalui hunian sementara (huntara) atau menerima dana tunggu hunian.
Ia menambahkan, dari 19 kabupaten di Sumatera Barat, sebanyak 16 kabupaten terdampak bencana, mencakup 125 kecamatan dan 568 desa.
Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara masih terdapat 850 pengungsi, menurun signifikan dari sebelumnya 53.523 orang. Korban meninggal dunia tercatat sebanyak 376 orang, sementara 40 orang masih dinyatakan hilang.
“Pengungsi yang semula 53.523 kini tersisa 850 orang dan berada di satu lokasi di Tapanuli Tengah. Selain itu, lebih dari 30 ribu rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat, yang sudah diklasifikasikan,” terang Tito.
Di Provinsi Aceh, jumlah pengungsi masih mencapai 12.144 orang. Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara, yakni 5.197 orang yang masih tinggal di tenda pengungsian.
“Disusul Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Lhokseumawe, dan Nagan Raya,” pungkasnya.
Skema Bantuan Korban Bencana
Tito Karnavian memaparkan skema bantuan yang disalurkan pemerintah bagi korban bencana di Sumatera. Pemerintah memberikan bantuan stimulan ekonomi sebesar Rp5 juta serta bantuan perabotan rumah tangga senilai Rp3 juta.
“Untuk rumah rusak berat, otomatis mendapatkan dua jenis bantuan ini, total Rp8 juta,” kata Tito.
Bagi rumah dengan kategori rusak ringan dan sedang, bantuan tetap dapat diberikan sesuai kondisi di lapangan. Misalnya, rumah rusak sedang yang perabotannya terdampak dapat memperoleh bantuan perabotan senilai Rp3 juta.
Demikian pula rumah rusak ringan yang lahan pertanian atau sawahnya terdampak berhak memperoleh bantuan stimulan ekonomi sebesar Rp5 juta.
“Yang rusak ringan dan sedang itu bantuan stimulan ekonomi tetap bisa diberikan. Di lapangan bisa saja rumahnya rusak ringan, tapi sawahnya rusak,” jelasnya.
Tito menegaskan pendataan untuk kategori rusak ringan dan sedang masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah, termasuk pendataan kerusakan perabot rumah tangga dan usaha kecil seperti warung.
Dalam kesempatan itu, ia meminta Menteri Sosial segera mengeksekusi anggaran yang telah disiapkan agar bantuan dapat segera diterima masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan dana tunggu hunian sebesar Rp1,8 juta untuk tiga bulan bagi korban yang memilih tidak tinggal di huntara.
Realisasi penyaluran dana tersebut di sejumlah daerah telah mendekati 100 persen. Di Provinsi Aceh mencapai 93,87 persen, Sumatera Utara 99,47 persen, dan Sumatera Barat 97,17 persen.
“Seluruh bantuan ditransfer langsung by name by address berdasarkan data yang telah divalidasi oleh BPS,” pungkas Tito. (***)
LAPORAN: JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK