Buka konten ini

Pernah merasakan bunyi “klik” atau “krek” di rahang saat membuka mulut, menguap, atau mengunyah? Keluhan ini ternyata cukup sering dialami masyarakat, namun kerap diabaikan dan dianggap sepele karena tidak disertai rasa sakit.
DOKTER Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Awal Bros Batam, drg. Nadya Khamila, Sp. BMMF, menjelaskan penyebab, risiko, hingga penanganan bunyi klik pada rahang atau yang dikenal sebagai gangguan sendi Temporomandibular Joint Disorder (TMJD).
Menurut drg. Nadya, bunyi klik pada rahang berasal dari sendi rahang yang berada di sisi kanan dan kiri wajah. Sendi ini bekerja secara bersamaan setiap kali seseorang membuka atau menutup mulut.
“Sendi rahang tidak bisa bekerja sendiri. Kalau salah satu terganggu, otomatis keseimbangannya berubah dan bisa menimbulkan bunyi,” jelas drg Nadya dalam sesi edukasi topik “Bunyi Klik di Rahang. Haruskah Khawatir?” yang disiarkan langsung Instagram haloawalbrosbatam.
Bunyi klik terjadi karena adanya ketidakharmonisan posisi antarstruktur sendi, seperti tulang dan bantalan sendi. Kondisi ini bisa dialami siapa saja dan di usia berapa pun, meski lebih sering terjadi pada usia produktif.
Secara demografis, gangguan TMJ lebih banyak dialami perempuan. Salah satu pemicunya adalah stres dan tekanan psikologis.
“Perempuan cenderung lebih mudah mengalami stres atau overthinking. Tegangan emosional ini bisa memicu otot rahang menjadi tegang dan memengaruhi sendi,” ungkap drg. Nadya.

Selain stres, kebiasaan buruk juga berperan, seperti mengunyah di satu sisi saja, kebiasaan menggertakkan gigi, atau adanya gigi berlubang dan gigi hilang yang tidak segera ditangani.
Pada tahap awal, bunyi klik di rahang sering kali tidak disertai nyeri dan bisa muncul hilang timbul. Kondisi ini relatif masih aman, namun tetap tidak boleh diabaikan.
“Bunyi klik itu adalah sinyal, bukan penyakitnya. Artinya ada sesuatu yang tidak normal dan perlu dicari penyebabnya,” tegasnya.
Pasien biasanya mulai mencari pertolongan medis ketika bunyi tersebut disertai nyeri saat berbicara atau mengunyah, mulut terasa kaku, sulit membuka mulut lebar, atau bunyinya terdengar jelas hingga mengganggu aktivitas sosial.
Bukaan mulut yang normal sekitar tiga jari atau ±30 milimeter. Jika kurang dari itu, perlu diwaspadai karena bisa mengarah pada kondisi rahang terkunci.
Gangguan TMJ umumnya tidak mengancam nyawa, namun dapat menurunkan kualitas hidup jika dibiarkan. Dalam jangka panjang, rahang bisa menjadi semakin kaku dan sulit digerakkan.
“Ini bukan kondisi yang muncul tiba-tiba. Biasanya merupakan akumulasi masalah yang sudah berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun,” jelas drg. Nadia.
Penanganan gangguan sendi rahang kata drg Nadya dilakukan bertahap, tergantung tingkat keparahan:
1. Terapi konservatif, seperti obat antiradang, pereda nyeri, dan modifikasi kebiasaan.
2. Cuci sendi (lavage), dilakukan secara berkala jika keluhan berlanjut.
3. Artroskopi, tindakan minimal invasif untuk melihat dan memperbaiki kondisi sendi.
4. Operasi terbuka, termasuk pemasangan sendi buatan, jika kerusakan sudah berat.
“Tidak semua kasus perlu operasi. Banyak yang cukup dengan obat dan perubahan kebiasaan, asalkan ditangani sejak dini,” ujarnya.
Gangguan TMJ juga bisa menimbulkan keluhan lain, seperti nyeri telinga, sakit kepala hingga ke ubun-ubun, bahkan nyeri wajah akibat ketegangan otot.
Namun, drg. Nadya menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh. Pasien mungkin perlu berkonsultasi dengan dokter THT, dokter gigi prostodonsia, hingga bedah mulut, karena TMJ merupakan kondisi yang memerlukan penanganan lintas disiplin.
Kesimpulannya, bunyi klik di rahang bukanlah hal yang normal dan tidak sebaiknya diabaikan, meski belum menimbulkan rasa sakit.
“Kalau hanya mengobati nyerinya tanpa mencari penyebab, keluhan akan terus berulang. Yang terpenting adalah menemukan sumber masalahnya,” ujar drg. Nadya.
Dengan edukasi yang tepat dan pemeriksaan sejak dini, gangguan sendi rahang dapat ditangani lebih efektif sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Anggapan umum di masyarakat, bunyi klik yang hilang menandakan kondisi membaik. Padahal, hilangnya bunyi justru bisa menandakan gangguan yang semakin progresif, misalnya sendi yang sudah tidak bergerak normal.
“Bunyi yang awalnya sering lalu tiba-tiba hilang, bukan berarti sembuh. Bisa jadi sendinya sudah mengalami pergeseran permanen,” jelas dokter.
Karena itu, setiap bunyi klik sebaiknya tetap dikonsultasikan, meski tidak disertai keluhan lain.
Ada beberapa tanda yang menunjukkan bunyi klik perlu segera mendapat perhatian medis, antara lain:
– Nyeri pada rahang, wajah, atau sekitar telinga
– Rahang terasa kaku atau sulit membuka mulut
– Bunyi disertai rasa tidak nyaman saat mengunyah
– Mulut sulit dibuka lebar atau terasa tersangkut
Jika kondisi ini dibiarkan, nyeri dapat menjadi kronis dan berdampak pada kualitas hidup.
Beberapa kebiasaan tanpa disadari dapat memberi tekanan berlebih pada sendi rahang dan memicu klik rahang, di antaranya:
– Mengunyah hanya di satu sisi
– Mengertakkan gigi saat tidur (bruxism)
– Mengatupkan gigi terlalu kuat (clenching)
– Sering menopang dagu dengan satu tangan
– Posisi duduk yang mene kan satu sisi rahang dalam waktu lama
“Kebiasaan seperti menopang dagu atau mengertakkan gigi terlihat sepele, tetapi jika berlangsung lama bisa menumpuk menjadi masalah sendi,” kata dokter.
Gangguan sendi rahang tidak hanya menimbulkan bunyi atau nyeri. Dalam jangka panjang, TMJD dapat mengganggu aktivitas makan, berbicara, hingga menurunkan kualitas hidup.
Bahkan, pada kondisi berat, pasien bisa mengalami kesulitan membuka mulut hingga kesulitan memasukkan sendok saat makan. Akibatnya, pasien menjadi stres, nyeri bertambah, dan membentuk lingkaran masalah yang berulang.
Pemeriksaan dan kolaborasi dokter sangat penting. Pemeriksaan TMJD dimulai dari pemeriksaan klinis, seperti mengukur bukaan mulut dan mendengarkan bunyi sendi. Jika diperlukan, dokter akan melanjutkan dengan pemeriksaan radiologis, seperti rontgen, CT scan 3D, atau MRI.
Penanganan TMJD sering kali membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari dokter gigi, bedah mulut, dokter THT, hingga spesialis lain, tergantung penyebabnya.
“TMJD tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien berbeda, dan penyebabnya harus dicari sampai tuntas,” tegas dokter.
Dokter mengingatkan masyarakat untuk tidak mendiagnosis atau mengobati sendiri. Mengonsumsi obat nyeri tanpa mengetahui penyebab justru bisa memperpanjang masalah.
“Jika ada bunyi klik, jangan langsung panik, tapi juga jangan dianggap remeh. Itu bisa menjadi alarm tubuh,” ujarnya.
Bunyi klik di rahang bukan untuk ditakuti, tetapi juga tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan dini dapat mencegah kondisi berkembang menjadi gangguan yang lebih berat dan berdampak pada kualitas hidup.
Seperti prinsip kesehatan pada umumnya, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY