Buka konten ini
Anambas (BP) – Waduk Desa Nyamuk yang pembangunannya menghabiskan anggaran Rp24 miliar kini terbengkalai. Hal ini memicu pihak Kepolisian Daerah (Polda) Kepri untuk mengambil tindakan. Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Kepri, Kombes Silvester Mangombo Marusaha Simamora, mengatakan bahwa pihaknya telah menampung informasi terkait waduk yang hingga kini pemanfaatannya belum maksimal. Dari laporan yang diterima, kepolisian akan menindaklanjutinya dengan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) sebelum melakukan penyelidikan lebih lanjut. ”Ya, pasti kami tindak lanjuti (laporan tentang waduk terbengkalai),” ujar Silvester kepada Batam Pos, Selasa (22/4).
Waduk yang dibangun pada 2021 dengan dana pokok pikiran (pokir) anggota DPR RI saat itu, Cen Sui Lan, sempat dikeluhkan warga karena tidak mampu menampung debit air.
Diduga struktur bangunan waduk tidak sesuai spesifikasi, sehingga menyebabkan kebocoran.
Warga setempat mengaku belum merasakan manfaat waduk tersebut sejak selesai dibangun hingga kini.
Untuk mengatasi masalah ini, Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) Wilayah IV Batam, yang bertanggung jawab atas waduk Desa Nyamuk, telah turun ke lokasi untuk memeriksa langsung penyebab kebocoran.
”Dua hari mereka turun, kebetulan kami mendampingi. Itu dicek betul dan mencari penyebab bocornya waduk itu,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Anambas, Muhammad Hatta Pulungan.
Hatta mengungkapkan bahwa tim dari BWSS IV Batam kesulitan menganalisis penyebab kebocoran waduk, karena kebocoran terjadi setelah kontruksi selesai.
”Kami melihatnya cukup luas, misalnya jika kita melihat kebocoran di atap rumah. Kadang sulit menemukan penyebabnya,” kata Hatta.
Petugas air melaporkan bah-wa pada Desember lalu, air dalam waduk tersebut terisi sekitar 1,5 balok dari balok dinding waduk. Namun, dalam waktu empat hari, air menyu-sut drastis, yang menandakan bahwa waduk itu mengalami kebocoran.
”Setelah itu kami periksa, kebetulan di belakang bendungan itu ada kolam pembuangan. Kami coba keringkan dengan pompa, tapi tidak bisa. Ternyata di sana ada mata air. Hal ini perlu dianalisis lebih lanjut oleh BWSS Batam. Jika air kering dari dalam, apakah air hilang dari kolam pembuangan?” jelas Hatta.
Meski waduk mengalami kebocoran, Hatta membantah kabar bahwa warga tidak pernah merasakan manfaat dari waduk tersebut.
”Warga pasti merasakan manfaat air dari waduk karena terintegrasi dengan dua sumber air, yakni PAM Simas dan Embung Desa,” tegas Hatta.
Pembangunan waduk ini dikerjakan oleh kontraktor PT Aiwondeni Permai dengan anggaran bersumber dari APBN 2021 melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Wilayah IV Batam Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI