Buka konten ini

MUHAMMAD HAFID RIDHO
Analis Yunior di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau
Bagi warga Batam, sudah menjadi hal wajar melihat atau mene-mui warga negara asing terutama dari Singapura dan Malaysia. Di akhir pekan, Singaporean dan Malaysian akan memadati beberapa titik di Kota Batam. Di antaranya ada pusat perbelanjaan, food court, tempat pijat, bahkan tempat cukur rambut. Kota Batam yang hanya dipisahkan dengan perjalanan laut satu sampai dua jam ditambah harga barang dan jasa yang murah menyimpan daya tarik yang kuat.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Batam, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) di Batam sepanjang tahun 2024 mencapai 1,3 juta jiwa. Jumlah ini mening-kat sebelas persen dibandingkan dengan 2023. Kedatangan tersebut didominasi wisman dari Singapura sebesar 52,46 persen dan diikuti Malaysia sebesar 21,33 persen. Kita bisa lihat bahwa Batam memiliki potensi sumber perekonomian yang besar dari transaksi wisatawan.
Kunjungan wisman diperkirakan akan semakin meningkat di 2025. Terutama dengan adanya fasilitas bebas visa bagi pemegang permanent resident di Singapura yang diberlakukan sejak Oktober 2024 lalu. Mereka bebas berkunjung ke Pulau Batam, Pulau Bintan, dan Kabupaten Karimun selama maksimal empat hari. Fasilitas ini bisa menjadi insentif menarik bagi para wisman, terutama mengingat rata-rata lama menginap tamu asing di Batam selama bulan Februari 2025 adalah 1,82 hari.
Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi Daerah
Kedatangan wisman di Batam bukan hanya sekadar untuk meramaikan suasana. Sektor pariwisata merupakan sektor strategis yang memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Wisman yang berkunjung di Batam tidak hanya membawa koper dan kamera. Mereka juga membawa uang yang dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan, seperti transportasi, akomodasi, makanan-minuman, oleh-oleh, hingga jasa kesehatan dan kecantikan.
Transaksi yang dilakukan wisman selama melakukan kunju-ngan dapat menggerakkan perekonomian lokal. UMKM, pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, hingga pemilik hotel/penginapan turut merasakan manfaat ekonomi. Ini menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan mendorong pertumbuhan usaha. Menurut pernyataan Menteri Pariwisata dalam Jumpa Pers Akhir Tahun 2024, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional mencapai 4,01 persen pada semester pertama 2024 melampaui capaian 2023 sebesar 3,09 per-sen.
QRIS Antarnegara sebagai Akselerator Pariwisata Batam
Industri pariwisata adalah industri jasa yang mengutamakan kenyamanan, kemudahan, dan keunggulan-keunggulan lain bagi wisatawan yang berkunjung. Semenarik apapun atraksi wisata yang dimiliki suatu daerah tidak akan langsung berbuah kunjungan tanpa adanya fasilitas dan akses yang memadahi. Wisatawan menuntut kemudahan baik dalam mengakses lokasi, memperoleh produk atau laya-nan, termasuk dalam melakukan transaksi pembayaran.
Selama ini, dalam melakukan perjalanan wisata ke mancanega-ra biasanya kita perlu melakukan penukaran uang ke money changer. Hal ini terkadang menjadi kesulitan karena jumlah uang yang dibawa menjadi terbatas. Meskipun bisa juga bertransak-si menggunakan kartu, tetapi metode ini juga tidak bisa digunakan secara luas. Terutama ketika wisatawan melakukan transaksi di merchant kecil seper-ti UMKM yang jarang memiliki mesin EDC.
Lantas, apa solusinya? Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran senantias berinovasi untuk menjawab berbagai kebutuhan. Salah satunya melalui QRIS sebagai inovasi kanal pembayaran digital yang mudah diadopsi di Indonesia baik oleh pengguna maupun merchant. Pengguna cukup memanfaatkan smartphone, alat yang sudah dibawa sehari-hari. Sementara dari sisi merchant, cukup dengan memasang gambar kode QRIS, tidak perlu alat tambahan.
Sebagai kanal pembayaran, QRIS juga terus dikembangkan termasuk untuk menjawab kebutuhan transaksi antarnegara. Sejak tiga tahun lalu, QRIS yang diterbitkan di Indonesia telah dapat melaya-ni transaksi antarnegara. Sampai saat ini, QRIS sudah bisa diguna-kan untuk transaksi dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura. Baik kita maupun warga negara-negara tersebut dapat dengan mudah bertransaksi menggunakan QR code menggunakan aplikasi pembayaran dari negara masing-masing tanpa perlu menginstal aplikasi tambahan.
Kehadiran QRIS antarnegara ini tentunya memberikan banyak manfaat bagi Batam. Satu juta lebih wisman yang datang ke Batam dapat semakin mudah bertransaksi termasuk untuk membeli produk UMKM. Para merchant di Batam dapat dengan percaya diri menawarkan QRIS untuk menerima pembayaran dari para wisman wisman. QRIS antarnegara secara tidak langsung juga akan memberi citra modern, ramah digital, dan efisien bagi kota Batam.
QRIS antarnegara memang sebuah metode pembayaran bayar, tetapi ia juga bisa membuka peluang ekonomi baru di Batam yang berhadapan langsung de-ngan pasar internasional. Namun, peluang hanya akan menjadi wacana bila tidak digarap dengan serius dan berkelanjutan. Pelaku pariwisata di Batam dapat memanfaatkan QRIS antarnegara secara lebih maksimal untuk memberikan layanan pembayaran yang nyaman, mudah, dan aman bagi wisatawan. (*)
Oleh:
MUHAMMAD HAFID RIDHO
Analis Yunior di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau