Buka konten ini
BP Batam terus berupaya menyelesaikan persoalan distribusi air bersih yang belum merata di sejumlah wilayah. Saat ini, terdapat 18 stress area atau wilayah terjauh dari Instalasi Pengolahan Air (IPA), yakni kawasan yang hanya menerima pasokan air pada dini hari hingga subuh.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena penyediaan air bersih merupakan salah satu dari lima program prioritas Wali Kota Batam/Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota/Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, di triwulan kedua masa jabatan mereka.
Warga berharap distribusi air di kawasan-kawasan terdampak segera normal, tidak hanya mengalir di luar jam aktivitas harian.
“Kami ingin air mengalir normal. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah,” ujar Wira, warga Tanjungsengkuang, Batuampar, Kamis (10/4).
Ia menyebut, air di tempat tinggalnya sering kali tidak mengalir saat pagi hingga sore hari, atau hanya mengalir dalam jumlah sangat kecil saat dini hari hingga subuh. “Kalau bisa, pemerintah segera berbenah. Bila perlu, kembalikan ke pengelola yang lama,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyampaikan bahwa pihaknya telah mulai mengerjakan sejumlah proyek teknis untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satunya adalah pemasangan crossing pipa kepayang dan interkoneksi pipa di kawasan Seiharapan, Sekupang.
“Dengan proyek tersebut, beberapa wilayah kini sudah mulai dialiri air, meskipun belum 24 jam penuh. Wilayah itu antara lain Kampung Ponjen, Kampung Bukit, Tiban Riau Bertuah, dan Patam,” sebut Tuty.
Meski demikian, distribusi air masih terus dipantau karena tekanan air belum merata, terutama di kawasan berbukit. BP Batam berencana menambah pompa (booster) untuk mendorong air ke wilayah-wilayah tinggi yang sulit dijangkau.
Selain itu, BP Batam juga menyiapkan pemasangan crossing pipa tambahan di wilayah lain, serta membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru di kawasan Ladi dengan kapasitas 50 liter per detik.
“Pembangunan IPA Ladi ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan stress area di wilayah barat Batam yang selama ini cukup terdampak,” ungkapnya.
Di sisi lain, BP Batam juga tengah mengevaluasi skema kerja sama dengan PT Moya selaku operator pengelola air. Skema yang berjalan saat ini adalah operation and maintenance (OM), namun BP Batam membuka ruang diskusi dengan PT Moya pusat untuk evaluasi menyeluruh.
“Evaluasi ini akan memakan waktu cukup panjang, bisa lebih dari enam bulan. Tapi ini bagian dari upaya kami untuk mendapatkan skema terbaik bagi pelayanan air bersih di Batam,” kata Tuty.
Ia juga menambahkan, selama dua pekan pertama menjabat, pihaknya menerima banyak laporan kebocoran pipa yang langsung ditindaklanjuti.
“Kami bergerak cepat memperbaiki kebocoran tergantung tingkat kerusakannya,” ujarnya.
BP Batam menegaskan komitmennya dalam memastikan distribusi air bersih yang merata bagi seluruh masyarakat. Tuty berharap, berbagai langkah teknis dan evaluasi yang dilakukan dapat meningkatkan pelayanan air bersih ke depan.
WTP Baru Beroperasi, Suplai Air Ditingkatkan
Dalam upaya meningkatkan layanan air minum bagi warga Batam, PT Air Batam Hilir (ABH) dan PT Air Batam Hulu (ABHu) mengklaim terus melakukan perbaikan infrastruktur dan kerja sama dengan Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum (BU-SPAM) BP Batam.
Corporate Communication PT ABH, Ginda Alamsyah, menyampaikan bahwa meningkatnya kebutuhan air menuntut adanya langkah konkret dari para operator. Salah satunya adalah pengoperasian sejumlah Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru, seperti WTP Mukakuning II, Tembesi, dan Duriangkang 5.
“Dengan beroperasinya fasilitas-fasilitas ini, kapasitas produksi air meningkat secara signifikan, sehingga mampu menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan air yang terus bertambah,” kata Ginda, Kamis (10/4).
Penambahan kapasitas ini menjadi salah satu solusi dari permasalahan ketidaknormalan suplai air yang masih terjadi di sejumlah wilayah Batam.
Langkah lainnya adalah peningkatan tekanan air melalui sistem injeksi dan penerapan keseimbangan distribusi antarwilayah. Tujuannya, agar pelanggan di area tekanan rendah tetap mendapat pasokan air memadai.
Selain itu, penggantian jaringan lama dan pembangunan jalur distribusi baru juga terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi serta mengurangi gangguan teknis.
“Kami berkomitmen mengatasi krisis air di area-area terdampak dengan pendekatan teknis dan strategis. Kerja sama dengan BU-SPAM BP Batam akan terus diperkuat demi layanan air minum yang andal dan berkelanjutan,” pungkas Ginda. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK