Buka konten ini
DECINE-CHARPIEU (BP) – Casemiro dianggap mampu menggantikan peran Nemanja Matic sebagai jenderal pivot Manchester United sejak bergabung pada 2022. Meski sempat terpinggirkan di awal kedatangan pelatih Ruben Amorim pada pertengahan musim ini, peran Casemiro krusial ketika United menyingkirkan Real Sociedad dalam babak 16 besar Liga Europa. Operan Casemiro jadi yang terbanyak saat itu. Padahal, gelandang 33 tahun Brasil itu dikenal karena tekelnya.
Dini hari nanti (11/4), Casemiro berkesempatan menghadapi Matic ketika United menantang Olympique Lyon dalam first leg perempat final Liga Europa di Stadion Groupama, Decine-Charpieu (siaran langsung beIN Sports 1/beIN Sports Connect/Vidio pukul 02.00 WIB). Casemiro diharapkan United kembali menunjukkan determinasi seperti saat memenangi duel dengan para gelandang Manchester City dalam derbi di Premier League (7/4). Casemiro yang semula dianggap memperlambat permainan United bersama Amorim, jadi kunci permainan dalam laga yang berkesudahan 0-0 tersebut.
“Dia (Casemiro) berada dalam momen terbaik. Saat dia sudah dalam hari-hari terbaiknya, dia akan susah digoyahkan,” kata Phil Bardsley, mantan pemain United yang kini jadi pandit MUTV.
Seperti halnya Casemiro, Matic punya peran penting dalam kesuksesan Lyon melaju sampai delapan besar di Liga Europa. Kemampuan tekel gelandang jangkar berkebangsaan Serbia tersebut masih mumpuni di usia yang sudah menapak 36 tahun.
Kepada The Athletic, Matic mengungkapkan perbedaan jadi jenderal pivot di United dan bersama Les Gones –sebutan Lyon. Menurutnya, tekanan besar sebagai penggawa United membuat dirinya sulit untuk selalu tampil optimal. “Bahkan, ketika kami (United) finis sebagai runner-up, banyak pihak yang tidak puas. (United) harus jadi juara Premier League,” tuturnya selama lima musim (2017–2022) memperkuat The Red Devils –sebutan United.
Terkait duel melawan Casemiro dini hari nanti, Matic menyebutnya sebagai pertemuan yang spesial. “Tetapi, fokusku tetap membawa kemenangan bagi klub. Target klub adalah lolos sampai final,” tutur mantan pemain Chelsea, SL Benfica, dan AS Roma tersebut.
Fonseca dan Amorim Simbol O Clasico
Pertemuan Olympique Lyon versus Manchester United menjadi ajang adu cerdas dua pelatih berkebangsaan Portugal di perempat final Liga Europa musim ini. Yaitu Paulo Fonseca (Lyon) dan Ruben Amorim (United).
Di Liga Europa, Fonseca dan Amorim jadi duo pelatih Portugal tersisa setelah Jose Mourinho gagal mengantarkan Fenerbahce lolos ke perempat final.Semetara di semua ajang Eropa musim ini, sebenarnya masih ada treinador Portugal di perempat final Liga Konferensi Europa. Yaitu Goncalo Feio bersama klub Polandia Legia Warszawa. Hanya, seiring Legia bersua Chelsea dalam perempat final, kans Feio berlanjut sangat kecil. Menilik latar belakang, perjumpaan Fonseca dan Amorim merupakan simbol gengsi O Clasico, derbi terpanas di Portugal antara Sporting CP kontra FC Porto. Itu karena Amorim merupakan mantan pelatih Sporting CP, sedangkan Fonseca eks pemain dan pelatih FC Porto. “Bagi United, ini (memenangi Liga Europa) biasaya bukan hal yang terpenting. Sebab, musim ini masih banyak hal yang harus kami lakukan. Tetapi, jika kalian melihat kami musim ini, Liga Europa benar-benar penting maknanya,” tutur Amorim kepada Daily Mail. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO