Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan (Trading Halt) akibat penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lebih dari 5 persen.
”Dengan ini kami menginformasikan bahwa hari ini, Selasa (18/3) telah terjadi pembekuan sementara perdagangan sistem perdagangan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 11:19:13 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu penurunan IHSG mencapai 5 persen,” kata Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resmi, Selasa (18/3).
Kautsar memastikan bahwa kebijakan pembekuan sementara perdagangan dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.
”Perdagangan akan dilanjutkan pukul 11:49:31 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan,” tutupnya.
Mengutip RTI Bussiness, IHSG saat ini berada di level 6.076 atau ambruk sebesar 6,12 persen atau 395,8 poin.
Volume transaksi tercatat 16.614 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp10.303 triliun. Adapun frekuensi transaksi tercatat 893.608 kali.
Sepanjang perdagangan hari ini, sebanyak 67 saham tercatat menguat, 616 saham melemah, dan 116 saham tidak mengalami pergerakan alias stagnan.
Sementara itu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, turut merespons soal kondisi pasar yang sempat ambruk lebih dari 5 persen hingga menyebabkan perdagangan dihentikan sementara.
Menurutnya, IHSG yang ambruk bukanlah suatu masalah. Ia menilai kondisi pasar memang sangat kondisional dan banyak faktor yang memengaruhinya.
“Gak ada masalah. Yang namanya market kan kondisionalnya banyak. Bicara kita pasar saham itu kan kondisionalnya bisa dalam secara internal negara kita maupun kondisional global. Faktornya banyak,” kata Todotua Pasaribu saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Selasa (18/3).
Lebih lanjut, Todotua menjelaskan bahwa yang paling penting adalah saat ini pemerintah secara konsisten merencanakan dan terus melakukan beberapa percepatan.
Mulai dari realisasi investasi, investasi dalam hilirisasi. Bahkan dengan adanya Danantara pemerintah bakal melakukan berbagai macam percepatan terhadap investasi itu sendiri.
“Karena kita sadar betul bahwa resources kita punya, kita punya juga potensial market yang besar, dan juga secara positioning kita secara global juga sangat strategis,” ujar Todotua.
“Jadi yang paling penting itu adalah konsistensi dalam pelaksanaan program yang sudah dicanangkan dan direncanakan oleh pemerintah,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : gustia benny