Buka konten ini
Industri musik terus berkembang dengan berbagai tren dan perubahan. Di tengah dominasi label besar dan industri musik arus utama, band indie menunjukkan eksistensinya dengan cara yang mandiri dan hadir sebagai alternatif bagi pendengar yang menginginkan sesuatu yang berbeda.
Istilah ‘indie’ berasal dari kata independen yang berarti merdeka, bebas atau mandiri. Oleh sebab itu, band indie tidak bergantung pada label besar dalam produksi dan distribusi musiknya.
Dalam musikalitas, band indie lebih leluasa dalam bereksperimen dengan berbagai genre musik seperti rock, rock alternatif, rock progresif, britpop, grunge, shoegaze, funk rock, slow rock, pop rock alternatif, punk rock dan elektronik hingga genre Melayu modern.
Melalui kreativitas dan semangat berkarya yang tinggi, band indie tetap menunjukkan eksistensi dengan menunjukkan identitas yang khas, menawarkan warna musik yang lebih segar dan orisinal.
Band indie adalah band atau grup musik yang memproduksi dan mendistribusikan musiknya secara mandiri, tanpa bergantung pada label rekaman besar.
Sebut saja band indie yang telah menancapkan namanya di jagat musik nasional seperti Pas Band, Pure Saturday, The Milo, Efek Rumah Kaca, Goodnight Electric, The Adams, The Upstairs, The Sigit dan yang terbaru Sukatani.
Berbeda dengan band yang berada di bawah naungan label besar atau label musik komersial, band indie memiliki kendali penuh atas karya mereka.
Dari proses produksi, pemasaran, hingga interaksi dengan penggemar, semuanya dilakukan dengan cara yang lebih personal dan mandiri serta organik.
Meskipun menawarkan kebebasan dalam berkarya, band indie juga menghadapi tantangan besar. Persaingan yang ketat, keterbatasan dana produksi, serta kesulitan dalam menembus pasar arus utama (mainstream) menjadi tantangan utama.
Namun, dengan segala kreativitas dan strategi yang tepat, banyak band indie yang mampu bertahan dan terus berkembang, termasuk di dunia musik indie Tanjungpinang.
Buktinya, beberapa band indie di Tanjungpinang dengan nama besar seperti Hedtend (rock), Britjamz (Britpop), The Kidz (grunge), Paranocturne (rock progresif), Audio Freak (funk rock), Miru (pop rock), Pagar Ayu (punk rock), Stunned Shocked (rock alternatif), Maliki (slow rock), The Collabs (rock) dan Dermaga Musica (Melayu modern), mampu bertahan di tengah gempuran industri musik mainstream dan nasional.
Vokalis band Britjamz dan Paranocturne Inaz Nazar, 47, mengatakan band indie berbagai genre yang ada di Tanjungpinang semakin menggeliat. Band indie yang terbentuk beberapa tahun lalu, telah merilis beberapa lagu ciptaan sendiri beserta klip video di platform digital.
Menurutnya, platform digital dapat membuka jalan bagi musisi indie atau band indie yang ada di Tanjungpinang untuk terus berkembang dengan segala tantangannya.
“Tentunya diperlukan kreativitas dan semangat bermusik secara mandiri di tengah industri musik arus utama (mainstream),” kata Inaz, Minggu (9/3).
Kemajuan teknologi dan platform digital seperti Spotify dan YouTube harus dimanfaatkan dan menjadi angin segar bagi band indie karena dapat mendistribusikan musik secara luas.
“Tanpa harus terikat kontrak dengan label besar, musisi indie bisa terus berkarya. Jadi band-band indie di Tanjungpinang sudah merilis lagu di platform digital yang ada,” tambahnya.
Media sosial seperti Instagram dan Facebook juga berperan besar dalam membangun komunitas penggemar dan mempromosikan karya musik band indie secara langsung.
“Ya jadi bisa juga menembus pasar musik internasional dengan berkarya secara independen,” sebutnya.
Di sisi lain, kata Inaz, tren musik indie saat ini, semakin diminati oleh para pendengar yang mencari alternatif musik lain dari musik arus utama.
Selain itu, kolaborasi dengan sesama musisi indie atau bahkan merek-merek tertentu, juga menjadi strategi untuk memperluas jangkauan pendengar atau audiens. Kemudian, musik indie juga hadir sebagai alternatif bagi pendengar yang menginginkan sesuatu yang berbeda dari musik yang dikendalikan label besar.
Selain itu, dengan kebebasan berkarya, eksplorasi musik yang luas dan strategi pemasaran digital, band indie mampu bertahan bahkan berkembang di industri yang kompetitif.
“Penikmat musik sekarang, maunya sesuatu yang baru, jadi pendengar ini menikmati musik terbaru dan lain daripada yang lain,” jelas Inaz.
Musisi yang memainkan genre britpop dan rock progresif ini, menyatakan bahwa eksistensi band indie di dunia musik, membuktikan bahwa kreativitas dan kebebasan berkarya, bisa menjadi kekuatan besar.
“Dengan dukungan platform digital serta semangat untuk terus berkarya, band indie mampu bertahan dan bahkan bersaing dengan musik arus utama,” tegas mantan vokalis dan gitaris band Bioz ini.
Sementara itu, menurut drummer The Kidz dan Stunned Shocked, Iin Koze, 50, geliat band indie di Tanjungpinang membuktikan bahwa bermusik tidak selalu harus berada di bawah kendali label besar.
“Untuk tetap sukses dan eksis berkarya, musisi juga bisa berkarya secara mandiri dan independen melalui musik indie,” katanya.
Menurut Iin, dengan semangat berkarya dalam bermusik, pemanfaatan platform digital dan kreativitas serta semangat yang tinggi, band indie mampu menembus batasan industri dan membangun komunitas yang solid dan kompak.
Sebab ke depannya, kata Iin, band indie bahkan berpotensi semakin terus berkembang dan menjadi kekuatan baru dalam dunia musik baik di Tanjungpinang dan musik nasional.
Oleh sebab itu, pada era saat ini, mendukung band indie bukan hanya mendengarkan musiknya. Namun juga ikut serta dalam gerakan musik yang lebih bebas, orisinal, dan penuh eksplorasi. Tidak hanya itu, musik indie bukan hanya sekadar alternatif. Namun menjadi sebuah revolusi atau perubahan nyata dalam industri musik global.
“Jadi, bagi para penikmat musik, mendukung band indie adalah cara untuk terus menjaga keberagaman dan kebebasan berekspresi dalam industri ini,” tegas musisi senior di Tanjungpinang ini.
Basis Dermaga Musica, Lowdy Mahariyadi, 43 mengatakan, eksistensi atau keberadaan band indie bergenre musik Melayu modern, kini banyak terpengaruh berbagai genre musik seperti rock dan pop.
Menurutnya, kehadiran wadah digital dan media sosial, membantu musik Melayu modern menjangkau pendengar global dan memperluas pengaruhnya, di luar komunitas lokal di Kepulauan Riau.
“Kekhasan musik ini juga tetap terjaga dan tidak menghilangkan ciri khasnya sebagai musik tradisional, jadi ada pendengarnya tersendiri,” jelas mantan vokalis band rock Spector ini.
Band indie beraliran musik Melayu modern tentunya akan tetap eksis dan tidak akan hilang dari dunia musik sebab musik Melayu mampu menjaga akar tradisi sambil terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Kami sebagai musisi, terus berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian warisan musik Melayu yang yang bernuansa unik dan berkarakter ini, agar tidak hilang di muka bumi,” jelas mantan basis band rock Bintang 5 ini.
Sementara itu, penulis lagu nasional asal Tanjungpinang, Teguh Diswanto, 51, menambahkan, musisi muda di Tanjungpinang, harus terus berkarya, sebab peta industri musik telah terbuka lebar.
Selain itu, sambung Teguh, dengan bermusik, generasi muda Tanjungpinang menjadi kreatif dan dapat terhindar dari penyalahgunaan narkoba, balap liar dan hal-hal negatif lainnya yang melanggar hukum.
“Hanya terus berkarya hingga titik daya saing bukan lagi persoalan. Dengan banyaknya event-event musik, anak muda jadi berpikir positif dan kreatif,” kata mantan gitaris band Tiket ini.
Teguh berharap, dengan banyaknya event musik dapat memunculkan kembali gairah permusikan khususnya bagi generasi muda sebagai wujud regenerasi permusikan di Tanjungpinang. “Menurut kami pemerintah daerah harus ikut bertanggungjawab untuk memajukan musik dan seni di Tanjungpinang,” tutup gitaris band Elastics ini.
Sekadar informasi, Hari Musik Nasional jatuh pada 9 Maret bertepatan dengan hari lahir pahlawan nasional, wartawan dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Supratman.
Peringatan Hari Musik Nasional ini, kali pertama diperingati pada 9 Maret 2013 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI