Buka konten ini
LINGGA (BP) – Kabupaten Lingga, yang dikenal sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu, memiliki beragam tradisi dan kebudayaan. Terutama saat Bulan Suci Ramadan, masyarakat Kabupaten Lingga menjalankan berbagai kegiatan khas yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.
Salah satu tradisi tersebut adalah pembuatan gerbang lampu colok menjelang malam ke-27 Ramadan, yang oleh masyarakat Lingga dikenal sebagai Malam Tujuh Likur.
Setiap tahun, para pemuda di desa-desa bergotong royong membangun gerbang lampu colok untuk merayakan momen istimewa ini.
Dari pantauan Batam Pos, terlihat semangat kebersamaan dan kekompakan para pemuda di Kelurahan Sungai Lumpur saat membangun gerbang lampu colok. Mereka bekerja hingga larut malam, dimulai setelah salat tarawih.
Lurah Sungai Lumpur, Raja Roni, menjelaskan bahwa tradisi pembuatan gerbang lampu colok merupakan warisan dari nenek moyang yang telah dijaga selama bertahun-tahun.
”Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita. Pembuatan gerbang lampu colok menjadi bagian dari perayaan Malam Tujuh Likur di Kabupaten Lingga,” ujar Raja Roni saat dikonfirmasi, Selasa (4/3).
Di Kelurahan Sungai Lumpur, pembangunan gerbang lampu colok merupakan inisiatif para pemuda setempat, dengan dukungan penuh dari seluruh masyarakat.
”Kegiatan ini adalah hasil inisiatif pemuda Kelurahan Sungai Lumpur. Semangat gotong royong yang mereka tunjukkan patut diapresiasi karena mencerminkan kebersamaan yang masih terjaga,” tambahnya.
Menurutnya, pembangunan gerbang lampu colok bertujuan untuk melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Lingga yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
”Kami ingin menjaga tradisi ini agar tetap hidup. Selain itu, gerbang lampu colok ini juga diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat dari luar Kelurahan Sungai Lumpur untuk melihat keindahannya,” ungkap Raja Roni.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan ini dilakukan secara swadaya, dengan mengedepankan semangat kebersamaan dan gotong royong antara pemuda dan masyarakat.
”Kami yakin bahwa tradisi ini memiliki banyak nilai positif, seperti mempererat silaturahmi, membangun kekompakan, berbagi rezeki, dan menumbuhkan rasa syukur.
Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk terus mempertahankan budaya ini,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Raja Roni berharap pembangunan gerbang lampu colok dapat berjalan lancar sebelum Malam Tujuh Likur tiba.
”Semoga tradisi ini tetap lestari dan semakin mempererat hubungan antarwarga. Mari terus semangat membangun kampung kita tercinta,” tutupnya. (*)
Reporter : Vatawari
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI