Buka konten ini

KEKHAWATIRAN terhadap daya saing industri Batam kembali mencuat seiring tingginya biaya energi yang harus ditanggung pelaku usaha. Meski PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memastikan tidak ada kenaikan harga gas pipa bagi industri di Batam, kalangan akademisi dan pelaku usaha mengingatkan mahalnya biaya energi tetap berpotensi mengurangi daya tarik investasi di kawasan industri tersebut.
Pengamat ekonomi sekaligus Wakil Rektor Universitas Batam (Uniba), Prof. Mohamad Gita Indrawan, mengatakan lonjakan harga gas yang sebelumnya terjadi dari sekitar USD7 atau sekitar Rp114 ribu menjadi USD20 atau sekitar Rp326 ribu per MMBTU bukan lagi sekadar fluktuasi pasar. Menurutnya, kondisi itu mencerminkan persoalan struktural yang dapat mengganggu iklim investasi apabila tidak segera diatasi.
Kata dia, perubahan tersebut dipicu menurunnya produksi gas domestik serta berkurangnya alokasi gas industri murah. Kekurangan pasokan kemudian ditutup menggunakan gas alam cair (LNG) yang memiliki harga jauh lebih tinggi.
“Ini bukan lagi persoalan kenaikan harga biasa. Beban energi bagi industri meningkat tajam sehingga memengaruhi biaya produksi dan daya saing perusahaan,” ujar Gita kepada Batam Pos, Selasa (14/7).
Sebagai kota yang mengandalkan sektor manufaktur dan ekspor, Batam dinilai akan ikut merasakan dampaknya. Banyak industri di kawasan ini bergantung pada pasokan energi untuk menjaga efisiensi produksi.
Menurut Gita, sektor-sektor padat energi seperti petrokimia, logam, baja, kaca, plastik, elektronik, hingga industri makanan dan minuman menjadi kelompok yang paling rentan apabila biaya energi terus bertahan tinggi.
“Walaupun industri keramik banyak berada di Jawa, tekanan biaya energi juga akan dirasakan industri-industri Batam yang menggunakan gas dalam proses produksinya,” katanya.
Ia menjelaskan, porsi biaya energi dalam struktur produksi manufaktur dapat meningkat dari sekitar 25 persen menjadi lebih dari 35 persen. Kondisi tersebut diperparah pelemahan nilai tukar rupiah karena transaksi gas masih menggunakan dolar Amerika Serikat.
Akibatnya, perusahaan berada dalam posisi sulit. Sebagian masih berupaya menahan kenaikan biaya, namun jika kondisi itu berlangsung lama, perusahaan diperkirakan tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan harga produk atau mengurangi kapasitas produksi.
“Kalau margin keuntungan terus tertekan, perusahaan akan melakukan efisiensi. Dampaknya bisa berupa penundaan investasi, pengurangan produksi, bahkan berpotensi memengaruhi penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Gita mengingatkan kondisi tersebut muncul ketika Indonesia sedang bersaing menarik investasi manufaktur dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Menurut dia, harga gas industri di Indonesia saat ini justru lebih mahal dibandingkan beberapa negara pesaing tersebut.
“Indonesia merupakan negara produsen gas, tetapi harga gas industrinya justru lebih tinggi daripada negara yang mengimpor gas. Ini tentu menjadi pertanyaan bagi investor,” sebutnya.
Karena itu, pemerintah diminta memastikan ketersediaan pasokan gas industri dengan harga yang kompetitif. Selain memperbaiki distribusi gas domestik, pemerintah juga perlu mengevaluasi kebijakan harga agar industri tetap mampu bersaing.
“Harga gas ideal menurut pelaku industri berada di kisaran USD7 sampai USD9 per MMBTU. Kalau terlalu jauh di atas angka itu, beban industri akan semakin berat dan daya saing Indonesia akan terus menurun,” tegasnya.
Kekhawatiran serupa sebelumnya juga disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid. Menurutnya, biaya energi merupakan salah satu komponen utama dalam struktur biaya industri. Jika terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan yang sudah beroperasi, tetapi juga dapat memengaruhi minat investor baru untuk masuk ke Batam.
Rafki menilai biaya energi yang terus membengkak berpotensi menaikkan biaya produksi, menekan daya saing produk ekspor, hingga membuat sejumlah perusahaan menunda ekspansi maupun perekrutan tenaga kerja. Sektor galangan kapal, offshore, fabrikasi logam, oleokimia, elektronik, hotel, rumah sakit, serta industri makanan dan minuman menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
PGN Pastikan Harga Gas Pipa Tetap
Di tengah kekhawatiran tersebut, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memastikan tidak ada kenaikan harga gas pipa yang disalurkan kepada pelanggan industri di Batam.
Sales Head Area PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan hingga saat ini PGN tidak menerima informasi maupun kebijakan mengenai kenaikan harga gas industri.
“Tidak ada. Memang tidak ada informasi kenaikan harga gas industri,” ujar Wendi kepada Batam Pos, Selasa (14/7).
Ia menegaskan, informasi yang berkembang selama ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah mengenai harga LNG, bukan harga gas pipa yang disalurkan PGN kepada pelanggan industri.
Menurut Wendi, pemerintah menetapkan harga LNG sebesar USD13 per MMBTU. Sebelumnya, harga LNG mengikuti harga internasional sehingga nilainya lebih tinggi.
“Itu bukan kenaikan. Yang diatur pemerintah adalah harga LNG menjadi tetap USD13 per MMBTU. Sebelumnya harga LNG mengikuti harga internasional. Jadi justru turun, bukan naik,” jelasnya.
Wendi mengatakan PGN siap menerapkan kebijakan tersebut dan saat ini tinggal menunggu penyesuaian dari pihak pemasok.
Ia juga menjelaskan pelanggan industri yang memperoleh alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) tetap menerima pasokan sesuai ketentuan pemerintah. Sementara pasokan di luar alokasi HGBT berasal dari kombinasi gas pipa dan LNG sehingga struktur biaya pasokannya berbeda.
“Kalau dibilang belum ada, seolah-olah nanti akan ada. Faktanya memang tidak ada informasi kenaikan,” tegasnya.
Meski demikian, Gita menilai persoalan utama bukan semata ada atau tidaknya kenaikan harga saat ini, melainkan bagaimana pemerintah mampu menjamin ketersediaan gas industri dengan harga yang kompetitif dalam jangka panjang.
Menurutnya, kepastian pasokan energi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan Batam tetap menjadi salah satu tujuan utama investasi manufaktur di Indonesia. (***)
Reporter : M. SYA’BAN – YASHINTA
Editor : RATNA IRTATIK