Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Minyak goreng subsidi MinyaKita kembali sulit ditemukan di sejumlah swalayan maupun warung di Kota Tanjungpinang. Distributor mengklaim kelangkaan tersebut bukan disebabkan berkurangnya kuota, melainkan akibat keterlambatan pengiriman dari daerah asal.
Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok (Adibapok) Tanjungpinang, Sadmi Al Qoyum, mengatakan alokasi MinyaKita dari Dumai sebenarnya masih mencukupi kebutuhan masyarakat di Tanjungpinang dan sekitarnya. Namun, distribusi terkendala transportasi laut.
”Seharusnya Senin kemarin masuk sekitar 4.400 dus, tetapi pengirimannya tertunda sekitar satu minggu karena kendala transportasi,” kata Sadmi, Rabu (8/7).
Ia memperkirakan, apabila tidak ada perubahan jadwal kapal, sebanyak 8.800 dus atau sekitar 150 ton MinyaKita akan tiba di Tanjungpinang pada Jumat atau Sabtu. Pasokan tersebut akan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Tanjungpinang, Bintan, hingga Lingga.
”Estimasi kami Jumat atau Sabtu sudah masuk. Mudah-mudahan tidak ada lagi kendala kapal,” ujarnya.
Sadmi menambahkan, penyaluran MinyaKita kini juga diawasi lebih ketat melalui aplikasi SIMIRAH (Sistem Informasi Minyak Goreng Curah). Distributor hanya diperbolehkan memasok pedagang yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan telah terdaftar dalam sistem tersebut.
Menurutnya, saat ini terdapat sekitar 116 pengecer di Tanjungpinang dan Bintan yang telah terdaftar di SIMIRAH. Ia menegaskan harga eceran tertinggi (HET) MinyaKita tetap Rp15.700 per liter.
”Kalau masyarakat menemukan harga di atas HET, silakan dicek apakah penjualnya sudah terdaftar di SIMIRAH atau belum,” katanya.
Sementara itu, seorang pedagang makanan di Tanjungpinang, Ipul, mengaku kesulitan memperoleh MinyaKita dalam sepekan terakhir. Ia mengatakan minyak goreng subsidi tersebut sudah tidak tersedia di sejumlah swalayan maupun warung.
”Sekarang MinyaKita di swalayan sudah kosong. Yang ada tinggal minyak goreng premium,” ujarnya.
Ipul juga mengaku heran karena harga MinyaKita yang dibelinya jauh di atas HET. Ia menyebut harus membeli satu dus berisi 12 liter seharga Rp215 ribu. ”Kalau dihitung, harganya hampir Rp18 ribu per liter, padahal HET yang ditetapkan pemerintah Rp15.700 per liter,” katanya. (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY