Buka konten ini

BATAM (BP) – Daya beli masyarakat Kota Batam tengah diuji keras. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam melaporkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juni 2026 melonjak drastis hingga menyentuh angka 4,75 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) bertengger di level 113,91. Lonjakan ini terasa sangat kontras jika dibandingkan dengan periode Juni 2025, di mana IHK Batam masih berada di angka 108,74.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengungkapkan bahwa badai inflasi kali ini dipicu oleh kenaikan harga yang merata di seluruh sektor pengeluaran masyarakat. Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau BPS, tidak ada satu pun yang lolos dari jerat kenaikan harga.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 11,35 persen. Disusul sektor transportasi sebesar 7,60 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang melonjak 6,60 persen,” beber Eko, Jumat (3/7).
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Batam mengalami inflasi sebesar 0,68 persen sepanjang Mei ke Juni 2026. Sementara itu, tingkat inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) kini sudah menembus angka 2,01 persen.
BPS memetakan pergerakan harga pangan dan biaya transportasi udara sebagai “biang kerok” utama yang paling dominan menguras kantong warga Batam.
Untuk inflasi bulanan (m-to-m), lonjakan harga tiket pesawat, bensin, cabai merah, bawang merah, bayam, dan emas perhiasan menjadi motor penggerak utama.
Beruntung, laju inflasi yang lebih parah masih bisa sedikit diredam oleh penurunan harga pada beberapa komoditas hortikultura dan dapur, seperti ketimun, sawi hijau, kangkung, tomat, telur ayam ras, serta bawang putih.
“Sektor pangan dan biaya transportasi masih menjadi faktor yang sangat dominan memengaruhi inflasi di Batam. Fluktuasi ini perlu diwaspadai dan dipantau ketat oleh pemangku kebijakan agar stabilitas harga di pasar tetap terjaga,” pungkas Eko. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : MUHAMMAD NUR