Buka konten ini
BEIJING (BP) – China mengumumkan penemuan blue hole pertama yang terbentuk di kawasan terumbu karang di Laut China Selatan. Lubang alami bawah laut tersebut disebut menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati setelah ilmuwan menemukan lebih dari 2.700 spesies organisme laut di dalam dan sekitarnya.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam Laporan Survei Blue Hole Pulau Huangyan 2025 yang dirilis Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China pada 25 Juni.
Blue hole pertama kali ditemukan oleh tim observasi ilmiah pada Agustus 2025 di bagian tengah laguna Pulau Huangyan. Peneliti memanfaatkan teknologi environmental DNA (eDNA) untuk mengidentifikasi ribuan spesies laut yang hidup di kawasan tersebut.
Terbentuk Ribuan Tahun Lalu
Berdasarkan proses pembentukannya, blue hole di bawah laut terbagi menjadi dua jenis, yakni terbentuk akibat pelarutan batu kapur dan terbentuk dari terumbu karang. Jenis kedua tergolong sangat langka di dunia.
Hasil penelitian awal menunjukkan blue hole di Pulau Huangyan diperkirakan telah terbentuk setidaknya 3.200 tahun lalu di kawasan terumbu karang padat yang berada di dalam laguna.
Strukturnya menyerupai corong dengan diameter permukaan 56,3 meter, kedalaman 16,6 meter, serta luas sekitar 1.491,7 meter persegi.
Rumah bagi Ribuan Spesies Laut
Para peneliti menemukan ekosistem terumbu karang yang berkembang baik di dalam blue hole tersebut.
Berbagai spesies ikan, kima raksasa, spons laut, hingga anemon hidup di kawasan tersebut. Penyu hijau, yang termasuk satwa liar dilindungi tingkat pertama di China, juga terpantau menghuni blue hole beserta perairan di sekitarnya.
Selama dua tahun survei lapangan, ilmuwan mencatat sedikitnya 165 spesies karang keras dari 14 famili dan 44 genus, serta 184 spesies ikan yang berasal dari 27 famili dan 85 genus.
Secara keseluruhan, analisis menggunakan teknologi eDNA berhasil mengidentifikasi lebih dari 2.700 spesies organisme laut.
Arsip Alam Perubahan Iklim
Menurut laporan tersebut, blue hole terumbu karang ini menjadi arsip geologi penting untuk merekonstruksi perubahan lingkungan purba di Laut China Selatan.
Data yang tersimpan di dalamnya dapat membantu ilmuwan memahami perubahan permukaan laut, dampak perubahan iklim global maupun regional, serta evolusi lingkungan laut sejak zaman Holosen, sekitar 11.700 tahun lalu.
Selain itu, penelitian terhadap blue hole diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai proses pembentukan, perkembangan, dan fungsi ekologis ekosistem laut yang unik tersebut.
Juru bicara Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China, Pei Xiaofei, mengatakan hasil penelitian ini menunjukkan kemajuan upaya konservasi ekosistem di sekitar Pulau Huangyan.
Kemajuan tersebut didukung oleh pembentukan Cagar Alam Nasional Pulau Huangyan pada September 2025.
Ke depan, pemerintah China akan melakukan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif terhadap blue hole tersebut sebagai dasar ilmiah untuk memperkuat perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati di Laut China Selatan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO