Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Koalisi Masyarakat Sipil mendesak pemerintah menghentikan program latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Desakan itu muncul setelah Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi tiga peserta meninggal dunia dalam rentang waktu berdekatan.
Tiga peserta yang meninggal tersebut adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq. Ketiganya mengikuti pendidikan di satuan berbeda, yakni Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, dan Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Direktur Imparsial, Ardi Manto Adiputra menilai pelatihan dasar kemiliteran dalam program tersebut sudah seharusnya dihentikan.
“Pelatihan dasar kemiliteran di program Koperasi Desa Merah Putih sudah seharusnya dihentikan, termasuk agenda-agenda militerisasi sipil lainnya,” kata Ardi dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6).
Koalisi juga meminta dilakukan investigasi menyeluruh serta penegakan hukum atas insiden tersebut. Menurut Ardi, pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program harus dimintai pertanggungjawaban karena hilangnya nyawa peserta yang berada di bawah kendali panitia seleksi dan penyelenggara pelatihan.
“Sudah semestinya program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih ditinjau ulang untuk dihentikan mengingat banyak masalah yang timbul akibat dua program itu,” ujarnya.
Koalisi turut mengkritik pelibatan TNI yang dinilai terlalu jauh dalam pelaksanaan program tersebut. Menurut mereka, pengelolaan koperasi semestinya dilakukan dengan pendekatan profesional dan modern, bukan melalui pola pendidikan militer.
Ardi menilai program Koperasi Desa Merah Putih sejak awal sudah bermasalah karena menggunakan pendekatan yang tidak sesuai dengan esensi perkoperasian yang berorientasi pada kebutuhan anggota.
“Program ini membuka celah terjadinya penyimpangan yang sulit diawasi. Apalagi hingga kini sistem peradilan militer belum direformasi dan anggota TNI masih tidak tunduk pada peradilan sipil,” katanya.
Koalisi juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Menurut Ardi, tidak ada keterkaitan langsung antara profesionalisme dalam mengelola koperasi dengan pelatihan dasar kemiliteran yang dijalani peserta.
Kemhan Konfirmasi Korban Ketiga
Sementara itu, Kemhan mengonfirmasi meninggalnya peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) KNMP atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait mengatakan pihaknya menerima laporan tersebut pada Rabu (24/6).
“Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta,” kata Rico.
Menurut dia, Novia mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan segera mendapat penanganan dari tim kesehatan satuan sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.
Namun, peserta tersebut meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebabnya berkaitan dengan penyakit tuberkulosis.
Rico menegaskan seluruh peserta telah melalui proses seleksi, termasuk pemeriksaan kesehatan, sebelum mengikuti pendidikan.
“Sejak munculnya keluhan kesehatan, tim medis satuan dan rumah sakit telah melakukan langkah-langkah penanganan sesuai prosedur yang berlaku,” ujarnya.
Kemhan juga menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan memastikan evaluasi terus dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) serta penyelenggara pendidikan.
“Guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program,” katanya.
Dua Peserta Meninggal Sebelumnya
Sebelumnya, Kemhan juga mengonfirmasi meninggalnya dua peserta lain, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, pada 18 dan 17 Juni 2026.
Anisa yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan mengalami gangguan kesehatan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, ia meninggal akibat heat stroke.
Sementara Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja mengalami penurunan kondisi kesehatan dan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.
Atas rangkaian kejadian tersebut, desakan untuk mengevaluasi pelaksanaan latsarmil bagi peserta program Kopdes dan KNMP pun semakin menguat. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK