Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga 21 Juni, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 205 kasus DBD tanpa satu pun kasus kematian.
Capaian tersebut menjadi kabar baik bagi sektor kesehatan di Batam. Pasalnya, pada 2024 lalu penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu merenggut 14 nyawa warga Batam. Sementara pada 2025 masih tercatat tiga kasus kematian akibat DBD.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, mengatakan kondisi ini menunjukkan upaya pengendalian DBD yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat mulai membuahkan hasil. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena potensi penularan masih cukup tinggi, terutama saat musim hujan dan perubahan cuaca ekstrem.
”Alhamdulillah hingga pertengahan tahun ini belum ada laporan kematian akibat DBD. Namun masyarakat jangan lengah karena potensi penularan tetap ada. Pencegahan harus terus dilakukan secara konsisten,” ujar Didi, Senin (22/6).
Berdasarkan data Dinkes, jumlah kasus DBD tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir. Pada 2025 tercatat sebanyak 809 kasus, tahun 2024 mencapai 871 kasus, dan pada 2022 sebanyak 902 kasus.
Penurunan juga terlihat dari angka Incident Rate (IR) atau tingkat kejadian DBD yang kini berada di angka 15,28 per 100 ribu penduduk. Angka tersebut turun drastis dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 60,28 per 100 ribu penduduk dan tahun 2024 sebesar 68,21 per 100 ribu penduduk.
Berdasarkan sebaran kasus, wilayah kerja Puskesmas Seilangkai menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 44 kasus. Selanjutnya disusul wilayah Batuaji sebanyak 27 kasus dan Tanjunguncang dengan 20 kasus.
Dari sisi kelompok usia, penderita DBD masih didominasi usia produktif di atas 15 tahun. Dari total 205 kasus, sebanyak 122 penderita berjenis kelamin laki-laki dan 83 lainnya perempuan.
Menurut Didi, penurunan kasus tidak lepas dari penguatan sistem surveilans, penyelidikan epidemiologi, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
”Kunci pengendalian DBD sebenarnya ada di lingkungan rumah masing-masing. Karena itu kami terus mengajak masyarakat rutin melakukan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” katanya.
Ia menjelaskan, fogging bukan solusi utama dalam pemberantasan DBD. Langkah yang paling efektif adalah memutus siklus hidup nyamuk dengan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan.
Dinkes Batam juga terus memantau perkembangan kasus melalui seluruh puskesmas dan rumah sakit. Jika ditemukan peningkatan kasus di suatu wilayah, tim kesehatan akan segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan intervensi lapangan.
”Kami berharap tren penurunan ini dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan,” tutup Didi. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO