Buka konten ini

Dosen Ilmu Administrasi Negara Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
PERKEMBANGAN kecerdasan buatan alias akal imitasi (AI) telah mengubah cara komunikasi publik. Jika dulu opini banyak dibentuk oleh media massa, pidato para elite, atau forum resmi, kini AI yang beredar lewat media sosial bisa menjangkau semua lapisan masyarakat dengan cepat. Dalam hitungan menit, narasi bisa bergeser dari ruang akademik ke layar ponsel, lalu menjadi bahan obrolan di warung kopi, pos ronda, pasar tradisional, hingga grup keluarga.
AI tak lagi eksklusif bagi teknokrat atau akademisi. Ia telah menjadi bagian dari budaya komunikasi: dari elite hingga wong alit dapat mengakses, memakai, dan menyebarkan konten AI. Banyak analisis serius yang kemudian berubah menjadi meme, satire, atau humor politik yang lebih mudah diserap publik.
Kekuatan Sosial
Budaya Indonesia guyonan kerap menyimpan kekuatan sosial besar. Hal yang susah diungkapkan langsung sering disampaikan lewat humor tanpa kehilangan muatan kritiknya. Jadi, wajar jika AI sekarang menjadi medium yang menerjemahkan persoalan rumit ke bahasa sederhana. Isu korupsi, kebijakan publik, ekonomi, maupun perilaku para pemimpin diolah menjadi narasi singkat, gambar parodi, atau video satire yang mudah viral.
Sebagian orang mungkin menganggapnya sekadar hiburan. Namun, di balik tawa itu, tersimpan pesan sosial serius. Humor digital menjadi cara mengekspresikan kegelisahan, kekecewaan, dan harapan terhadap jalannya pemerintahan. Dalam banyak situasi, satire malah menyampaikan kritik lebih tajam daripada pidato panjang atau demonstrasi berteriak. Seperti yang dijelaskan Bakhtin (1984), humor dan parodi memungkinkan masyarakat mengoreksi otoritas lewat bahasa simbolis yang lebih mudah diterima.
Kritik tidak pernah hilang. Ia berubah bentuk mengikuti zaman. Ketika kritik verbal tak lagi didengar, tulisan panjang kehilangan perhatian, dan demonstrasi jalanan dirasa kurang efektif, publik mencari medium lain yang lebih ampuh. Di sinilah AI menjadi instrumen kritik sosial, selaras dengan gagasan Habermas (1989) tentang public sphere sebagai ruang warga menyampaikan aspirasi dan mengawasi kekuasaan.
Teknologi AI memberikan kemampuan produksi konten yang dulu hanya dimiliki media besar. Dengan beberapa perintah, seseorang bisa membuat gambar, animasi, atau video satire politik dan menyebarkannya ke jutaan orang dalam hitungan menit. Imbasnya, hubungan antara penguasa dan masyarakat makin terbuka. Pengawasan bukan lagi monopoli lembaga formal, melainkan juga jutaan warga yang terhubung secara digital.
Dampaknya nyata bagi kepemimpinan modern. Dahulu pemimpin masih bisa mengontrol narasi lewat pidato resmi atau media massa. Kini setiap ucapan, janji, kebijakan, dan tindakan meninggalkan jejak digital yang bisa disimpan, dibandingkan, dan diputar ulang kapan saja. Publik mudah mencocokkan kata-kata dengan tindakan nyata. Van Dijck (2013) menyebutnya culture of connectivity: aktivitas digital terus tersimpan dan dapat diakses kembali.
Dulu kontradiksi seorang pemimpin mungkin hanya dibicarakan di ruang kecil. Kini AI bisa mengolahnya kembali menjadi format yang sederhana, menarik, serta mudah dipahami. Narasi itu lalu menyebar, menjadi guyonan yang berpindah dari orang ke orang. Guyonan tampak ringan, tetapi menyimpan kritik mendalam terhadap kualitas kepemimpinan dan tata kelola.
Semakin tinggi posisi publik seseorang, semakin besar perhatian masyarakat pada konsistensi antara ucapan dan tindakan. AI bukan sekadar alat hiburan, melainkan instrumen pengawasan sosial yang bekerja lewat kreativitas publik.
Fenomena ini bukan selalu ancaman. Dalam perspektif demokrasi, satire adalah bagian dari kebebasan berekspresi sekaligus mekanisme kontrol sosial. Kehadirannya menandakan kepedulian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Satire digital merupakan bentuk partisipasi politik baru di era teknologi.
Integritas
Namun, kebebasan itu harus tetap berlandasan etika. Kritik sehat berbeda dengan fitnah. Satire yang mengingatkan berbeda dengan disinformasi yang menyesatkan. AI bisa memperkuat kualitas demokrasi, tetapi juga bisa memperparah polarisasi jika dipakai tanpa tanggung jawab. Benkler, Faris, dan Roberts (2018) mengingatkan, teknologi digital bisa menjadi sarana demokratisasi informasi sekaligus medium penyebaran manipulasi dan disinformasi.
Inti pelajaran dari fenomena ini bukan kecanggihan AI, melainkan pentingnya integritas. Teknologi dan platform akan terus berubah, begitu pula bentuk kritik publik. Namun, kepercayaan masyarakat tetap dibangun atas konsistensi antara kata dan perbuatan. Covey (2006) menyebut integritas sebagai fondasi utama kepercayaan publik dan legitimasi kepemimpinan.
Di era AI, kewibawaan pemimpin tak lagi ditentukan oleh besar kekuasaan atau frekuensi tampilnya di publik. Kewibawaan berasal dari kemampuan menjaga keselarasan antara ucapan, janji, dan tindakan nyata. Ketika kritik verbal dan demonstrasi terasa kurang bermakna, masyarakat akan menemukan jalannya sendiri lewat teknologi. Dan sering kali kritik paling tajam bukan berupa kemarahan, melainkan senyum, satire, dan candaan viral dari media sosial sampai guyonan di warung kopi. (*)