Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.
Kepala Center of Macroeconomic and Finance INDEF, Rizal Taufiqurahman, penyesuaian BBM nonsubsidi juga akan menekan daya beli masyarakat. Ia menjelaskan, tekanan daya beli khususnya terjadi pada masyarakat kelas menengah yang sehari-hari menggunakan BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
”Lagi-lagi, pendapatan (masyarakat) menengah akan terus tertekan seiring dengan kebijakan-kebijakan yang notabene kurang ada buffer terhadap rumah tangga ini,” Rizal saat diskusi virtual, Minggu (14/6).
Lanjutnya, jika masyarakat pengguna Pertamax melakukan peralihan dengan menggunakan Pertalite atau BBM subsidi maka akan membantu meredam inflasi. Namun, kondisi tersebut akan menyebabkan konsekuensi fiskal akibat melonjaknya beban subsidi dan kompensasi energi.
”Jadi, kalau adanya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke Pertalite maka akan meningkatkan beban subsidi (dan kompensasi) energi pemerintah,” ujarnya.
Keluhan Kelas Menengah
Impitan ekonomi akibat kenaikan biaya energi dirasakan langsung oleh Fahrudin Dwi Mukti, 30, seorang pegawai swasta yang menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama untuk bekerja. Pria yang akrab disapa Mukti itu mengaku terkejut dengan kenaikan harga Pertamax yang terjadi secara mendadak.
”Terus terang saya kaget juga karena naiknya mendadak dan enggak ada permintaan maaf dari pemerintah, naiknya hampir 32 persen sekaligus itu terasa berat. Dari Rp12.300 langsung ke Rp16.250 per liter itu bukan kenaikan kecil,” ujar Mukti saat dikonfirmasi JawaPos.com, Sabtu (13/9).
Mukti mengatakan, dirinya memahami bahwa kenaikan harga Pertamax dipengaruhi oleh faktor harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, sebagai masyarakat yang menggunakan sepeda motor setiap hari untuk bekerja, ia menilai kenaikan tersebut sangat membebani pengeluaran.
”Buat masyarakat biasa yang setiap hari pakai motor untuk kerja, kenaikan sebesar itu langsung terasa di dompet. Apalagi kebijakan sekarang untuk program yang ada seperti MBG atau Kopdes masih berantakan, lebih baik anggarannya dievaluasi lagi,” ujarnya.
Ia mengatakan, kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap pengeluaran bulanannya. Pasalnya, ia memiliki dua sepeda motor yang digunakan setiap hari bersama istrinya untuk menunjang mobilitas.
”Jelas berdampak. Saya punya dua motor di rumah, keduanya saya pakai sehari-hari untuk mobilitas dengan istri. Kalau dihitung, pengeluaran BBM bulanan saya untuk dua motor bisa naik sekitar Rp140 ribu–Rp200 ribu per bulan tergantung jarak. Belum lagi efek dominonya nanti akan berasa, kenaikan harga bahan-bahan pokok pasti naik dalam waktu dekat,” ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan Muhamad Akmal, 21, seorang mahasiswa. Menurut dia, kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong lebih banyak pengguna beralih ke Pertalite sehingga antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menjadi lebih panjang.
”Menyusahkan rakyat kelas menengah yang awalnya mau antrean cepat Pertamax, dengan harga Pertamax naik jadi mau enggak mau antrean panjang Pertalite,” ujar Akmal.
Ia mengakui kenaikan harga BBM tersebut turut memengaruhi pola pengeluarannya sehari-hari. ”Ngaruh, serba dipikirin semua kalau mau keluar. Sekali keluar duit cuma buat beli bensin doang,” katanya.
Konsumsi RT Q1-2026
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia kuartal I-2026 (Q1-2026) terhadap kuartal I-2025 (Q1-2025) tumbuh sebesar 5,61persen (Year-on-Year/YoY).
Pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran. Belum terlihat dampak kenaikan harga Pertamax yang baru diresmikan 10 Juni 2026 terhadap konsumsi rumah tangga pada data ini.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 21,81 persen; diikuti Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 6,28 persen.
Berikutnya adalah Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 5,96 persen, dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,52 persen.
Kemudian, Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 0,90 persen, serta Komponen Impor Barang dan Jasa (yang merupakan faktor pengurang dalam PDB menurut Pengeluaran) yang tumbuh sebesar 7,18 persen.
Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi atau Pertamax Series. Pada Rabu (10/6/2026) harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 dari Rp 12.300. (*)
Laporan : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI