Buka konten ini

BATAM (BP) – Gelombang investasi pusat data (data center) terus mengalir ke Batam. Nilainya tak main-main, sudah menembus lebih dari Rp120 triliun. Kawasan Nongsa menjadi episentrum pertumbuhan industri digital baru yang diproyeksikan mengubah wajah ekonomi Batam dari basis manufaktur menuju pusat teknologi dan kecerdasan buatan (AI) nasional.
Sedikitnya sembilan proyek data center telah masuk ke Batam. Investasi terbesar datang dari EGSB/Range IDC yang akan membangun AI Data Centre senilai Rp88 triliun di Teluk Mata Ikan, Nongsa.
Selain itu, terdapat Princeton Digital Group (PDG) dengan investasi Rp15 triliun; DayOne (eks GDS) Rp6,5 triliun; Data Center First Rp4,3 triliun; PT GDS IDC Service Rp4 triliun; Pusat Data Nasional (PDN) Komdigi Rp2,32 triliun; serta NeutraDC Nxera Batam Rp1,4 triliun.
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, proyek AI Data Centre senilai Rp88 triliun akan dibangun dalam tiga tahap sepanjang 2027 hingga 2030.
Menurutnya, Batam dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, mulai dari lokasi yang dekat dengan pusat konektivitas digital regional, dukungan infrastruktur, pasokan energi yang relatif stabil, hingga kemudahan investasi melalui sistem pelayanan terintegrasi BP Batam.
“Batam memiliki keunggulan strategis yang kompetitif dibanding daerah lain. Mulai dari lokasi yang dekat dengan pusat konektivitas digital regional, dukungan infrastruktur dan energi, kemudahan investasi hingga status kawasan khusus yang dimiliki Batam,” ujar Fary, Selasa (2/6).
AI Data Centre tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat data berbasis kecerdasan buatan terbesar di Indonesia. Saat beroperasi penuh, kebutuhan listriknya diperkirakan mencapai 580 megawatt (MW), sedangkan pada tahap awal sekitar 140 MW.
BP Batam menargetkan proyek tersebut mulai beroperasi penuh pada 2030. Selain menghadirkan investasi jumbo, fasilitas itu diperkirakan membutuhkan sekitar 700 hingga 800 tenaga profesional untuk mendukung operasionalnya.
“Tenaga kerja lokal harus mendapatkan manfaat langsung dari investasi ini. Karena itu, penyiapan SDM menjadi salah satu fokus penting yang kami dorong sejak awal,” katanya.
Jangan Hanya Umumkan Nilai Investasi
Di tengah derasnya investasi digital tersebut, Politeknik Negeri Batam (Polibatam) mengingatkan agar pemerintah dan investor tidak hanya mengumumkan nilai investasi, tetapi juga membuka peta kebutuhan tenaga kerja secara rinci.
Direktur Polibatam, Bambang Hendrawan, menilai informasi mengenai kebutuhan SDM masih menjadi bagian yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Selama ini yang selalu muncul adalah nilai investasinya. Tetapi kebutuhan tenaga kerja dan kualifikasi SDM secara kuantitatif hampir tidak pernah disampaikan,” ujarnya.
Menurut Bambang, informasi kebutuhan tenaga kerja sangat penting agar perguruan tinggi dapat menyesuaikan kurikulum dan menyiapkan lulusan sesuai kebutuhan industri.
Ia berharap setiap proyek investasi disertai proyeksi kebutuhan SDM sejak tahap desain, konstruksi, operasional hingga pemeliharaan.
“Kalau kebutuhan SDM diketahui sejak awal, kampus bisa menyiapkan talenta yang sesuai sehingga peluang kerja dapat lebih banyak dinikmati tenaga lokal,” katanya.
Menurutnya, industri data center membutuhkan kompetensi yang sangat spesifik. Tidak hanya bidang teknologi informasi, tetapi juga kelistrikan, elektronika, sistem pendingin, keamanan siber, energi hingga manajemen operasional.
Setidaknya ada lima kelompok kompetensi utama yang dibutuhkan, yakni critical facilities dan mechanical electrical plumbing (MEP), operasi jaringan teknologi informasi, keamanan dan kepatuhan termasuk keamanan siber, operasional bisnis pendukung, serta energi dan keberlanjutan.
Untuk operasional dan pemeliharaan, satu fasilitas data center dapat membutuhkan sekitar 30 hingga 150 tenaga profesional tergantung kapasitas dan kompleksitasnya.
“Kalau melihat kapasitas data center yang masuk ke Batam, tentu kebutuhan SDM akan cukup besar. Minimal puluhan hingga ratusan orang per fasilitas,” ujarnya.
Saat ini, Polibatam telah menjalin kerja sama dengan sejumlah operator data center seperti DayOne dan Data Garda, serta mulai menjajaki kolaborasi dengan NeutraDC.
Kerja sama tersebut mencakup program magang, rekrutmen lulusan hingga penyusunan modul pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.
“Talenta lokal sebenarnya mampu. Yang dibutuhkan adalah kesempatan dan informasi kebutuhan SDM sejak awal agar bisa kami siapkan,” kata Bambang.
Motor Baru Ekonomi Batam
Pengamat ekonomi Universitas Batam, Mohamad Gita Indrawan, menilai investasi data center mulai menghadirkan efek berganda bagi perekonomian Batam.
Menurutnya, dampak paling terasa muncul pada fase konstruksi karena mampu menyerap ribuan tenaga kerja, mulai dari pekerja bangunan, teknisi listrik, mekanikal hingga tenaga keamanan.
“Pada tahap pembangunan, kebutuhan tenaga kerja sangat besar. Selain itu menghidupkan industri pendukung seperti semen, baja, alat berat dan jasa konstruksi,” ujarnya.
Kehadiran data center juga mendorong investasi di sektor energi dan telekomunikasi karena pusat data membutuhkan pasokan listrik besar dan jaringan internet berkapasitas tinggi.
Di kawasan Nongsa, geliat ekonomi tersebut mulai terlihat melalui tumbuhnya hotel, restoran, transportasi, apartemen sewa hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Meski demikian, Gita mengingatkan bahwa data center bukan industri padat karya permanen seperti manufaktur. Setelah beroperasi, kebutuhan tenaga kerja relatif lebih sedikit karena sebagian besar sistem sudah terotomatisasi.
Namun manfaat terbesarnya berada pada perubahan struktur ekonomi Batam dalam jangka panjang.
“Selama ini Batam dikenal sebagai kota industri manufaktur dan logistik. Kini mulai muncul pilar baru, yaitu ekonomi digital. Jika didukung peningkatan kualitas SDM lokal, Batam berpeluang menjadi hub digital regional yang semakin diperhitungkan,” ujarnya.
Dengan investasi yang sudah menembus Rp120 triliun dan proyek AI Data Centre Rp88 triliun yang segera dibangun, tantangan terbesar Batam kini bukan lagi menarik investor, melainkan memastikan tenaga kerja lokal siap mengambil peran utama dalam transformasi ekonomi digital tersebut. (*)
Reporter : M. SYA’BAN – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK