Buka konten ini
DERU mesin industri dan padatnya aktivitas kawasan ekonomi di Batam tak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tekanan bagi tenaga kerja lokal. Di tengah derasnya arus pendatang, ketimpangan komposisi pekerja kian terlihat, di mana jumlah tenaga kerja non-KTP Batam kini melampaui warga ber-KTP Batam.
Fakta ini mencuat dalam Rapat Koordinasi Lanjutan Sinkronisasi Data Kependudukan yang dipimpin Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, di Kantor BP Batam, Jumat (24/4) lalu.
Data Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat tenaga kerja ber-KTP luar Batam mencapai 199.473 jiwa. Angka ini lebih tinggi dibanding tenaga kerja ber-KTP Batam yang berjumlah 177.830 jiwa.
Selisih tersebut menegaskan adanya ketimpangan nyata di pasar kerja, yang berpotensi mempersempit ruang bagi tenaga kerja lokal.
Di saat bersamaan, arus masuk penduduk ke Batam juga masih tergolong tinggi.
Sepanjang triwulan I 2026, sebanyak 11.598 jiwa tercatat mengajukan pindah domisili ke Batam.
Rinciannya, Januari 4.115 jiwa, Februari 3.729 jiwa, dan Maret 3.754 jiwa. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Batam ini menunjukkan bahwa Batam tetap menjadi magnet kuat bagi pencari kerja dari berbagai daerah.
Kepala Disdukcapil Batam, Adisthy, menyebutkan bahwa angka tersebut merupakan penduduk yang telah tercatat secara administrasi.
“Data ini merupakan warga yang telah mengajukan pindah domisili dan tercatat secara administrasi di Disdukcapil,” ujarnya. Tingginya arus pendatang ini sejalan dengan peluang ekonomi yang terbuka di sektor industri, jasa, dan perdagangan. Namun di sisi lain, kondisi ini juga memperbesar tekanan kompetisi di pasar tenaga kerja, terutama bagi warga lokal.
Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dipandang sebagai hal biasa. Menurutnya, validitas data kependudukan menjadi kunci untuk membaca kondisi riil sekaligus merumuskan kebijakan yang tepat.
“Data ini harus dibaca secara utuh. Kita perlu memastikan keseimbangan antara kebutuhan industri dan peluang kerja bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, tingginya mobilitas penduduk yang tidak diiringi pembaruan data secara akurat turut memperumit pemetaan tenaga kerja. Masih ditemukan warga yang pindah tanpa memperbarui identitas, hingga arus masuk yang belum tercatat optimal.
Dengan jumlah penduduk Batam mencapai 1.394.459 jiwa berdasarkan data semester II 2025, akurasi data menjadi sangat penting agar kebijakan tidak meleset dari kebutuhan nyata.
Ketimpangan ini juga berdampak pada perencanaan jangka panjang, termasuk sektor pendidikan. Pemerintah perlu memastikan bahwa warga ber-KTP Batam memiliki kesiapan dan kompetensi agar mampu bersaing di tengah derasnya arus tenaga kerja dari luar daerah.
“Dengan data yang akurat, kita bisa menghitung kebutuhan dari hulu ke hilir, mulai dari pendidikan hingga dunia kerja,” tambahnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemko Batam akan memperkuat pengendalian arus masuk penduduk secara terukur, termasuk melalui pemantauan di pintu masuk utama seperti Pelabuhan Batuampar dan Sekupang.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menertibkan administrasi kependudukan, tetapi juga menekan ketimpangan tenaga kerja, sehingga peluang kerja bagi masyarakat Batam tetap terjaga di tengah derasnya arus pendatang.
Sebagai gambaran, Batam pernah tercatat menghadapi ancaman serius dari kelompok usia produktif yang belum terserap pasar kerja. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 mencatat sebanyak 19.518 anak muda berusia 15–24 tahun menganggur di Batam. Angka itu setara 38,70 persen dari total pengangguran, menjadikan kelompok usia muda sebagai penyumbang terbesar pengangguran di kota ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, menyebut persoalan ini bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga derasnya arus pencari kerja dari luar daerah yang terus datang ke Batam.
“Batam ini daerah industri yang memberi harapan banyak orang untuk mencari pekerjaan. Di satu sisi banyak pencari kerja datang, namun di sisi lain peluang kerja terbatas,” ujar Eko, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, tidak sedikit lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan teknis atau spesifikasi tertentu, sehingga tidak sesuai dengan kompetensi para pencari kerja muda, terutama mereka yang baru lulus sekolah.
Secara tingkat pendidikan, lulusan sekolah menengah atas (SMA) menjadi kelompok paling rentan. Pada 2024, pengangguran lulusan SMA mencapai 26.162 orang, atau lebih dari setengah total pengangguran di Batam.
“Selama lima tahun terakhir, lulusan SMA selalu berada di puncak angka pengangguran,” jelas Eko.
Fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan SMA dengan lapangan kerja yang tersedia, terutama lowongan yang membutuhkan skill teknis dan spesialisasi.
Sementara itu, pengangguran lulusan perguruan tinggi juga menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sebanyak 7.125 sarjana belum bekerja pada 2024, naik tajam dibandingkan 3.412 orang pada 2023 dan 2.754 orang pada 2022. Kondisi ini menggambarkan bahwa semakin banyak lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja, tetapi penyerapannya di industri belum optimal.
Adapun, pengangguran lulusan SMP ke bawah tercatat 14.144 orang, menurun dari 20.757 orang pada 2021. Penurunan tersebut menunjukkan sektor informal dan padat karya masih menjadi tumpuan utama kelompok berpendidikan rendah di Batam.
BPS menegaskan bahwa pendataan pengangguran tidak hanya berdasarkan alamat KTP, tetapi mencakup seluruh penduduk yang telah tinggal di Batam minimal satu tahun. Hal ini mempertegas posisi Batam sebagai magnet pencari kerja muda dari berbagai daerah, namun pasar kerja tak mampu menampung laju kedatangan yang terus meningkat.
Tingginya pengangguran usia muda menjadi sinyal kuat perlunya intervensi serius, mulai dari pelatihan vokasi, peningkatan kompetensi angkatan kerja, hingga penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Jika tidak, Batam berisiko kehilangan peluang besar dari generasi produktif yang seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kota ini. (***)
Reporter : M SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK