Buka konten ini

Air mata itu sempat tak berhenti mengalir. Di tepi jalan Tarempa, seorang ibu berdiri dengan wajah letih. Matanya sembab. Suaranya bergetar. Ia memberanikan diri menghentikan mobil pejabat yang melintas sebuah langkah yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“TOLONG pak… sudah lebih sebulan anak saya hilang,” ucap Helin lirih, kala itu.
Momen itu terjadi pada 31 Maret 2026. Video singkatnya menyebar cepat di media sosial. Dalam hitungan jam, wajah Helin dikenal banyak orang. Namun, bagi dirinya, satu hal lebih penting: menemukan anaknya, Deni Syahputra.
Anaknya menghilang usai penggerebekan pesta sabu oleh polisi di sebuah kos di Tarempa Barat. Nama Deni disebut dalam pengakuan sejumlah orang yang diamankan. Sejak itu, ia seperti ditelan bumi.
Hari-hari Helin dipenuhi tanya. Ia tak tahu harus mencari ke mana. Tak ada kabar.
Tak ada jejak. Malam menjadi waktu paling panjang. Ia terjaga, memandangi pintu, berharap suatu saat anaknya mengetuk dan pulang seperti biasa.
“Kalau dipenjara, saya bisa antar makanan. Kalau meninggal, bisa kami urus. Yang penting saya tahu,” ucapnya kala itu, dengan suara yang nyaris patah.
Bagi Helin, kepastian apa pun bentuknya lebih baik daripada terus hidup dalam ketidakpastian.
Namun, aksi nekatnya menghentikan mobil Kapolres ternyata menjadi titik balik. Perhatiannya tak hanya datang dari warga, tetapi juga dari jajaran kepolisian lebih tinggi.
Kapolda Kepri hingga Kabid Propam disebut turut memberi atensi. Pencarian pun dilakukan lebih intensif.
Dan akhirnya, kabar yang ditunggu itu datang. Deni ditemukan.
Kamis, 9 April 2026. Di sebuah kos di Kecamatan Siantan, polisi menemukan Deni. Ia tidak sendiri. Selama ini, ia diduga dibantu oleh orang terdekat untuk bersembunyi.
Namun bagi Helin, detail itu tak lagi penting saat pertama kali melihat anaknya kembali.
Yang ia rasakan hanya satu: lega. “Alhamdulillah… saya bisa tidur nyenyak sekarang,” ucapnya, kali ini dengan senyum yang lama hilang.
Tak ada lagi bayang-bayang gelap yang menghantui. Tak ada lagi malam tanpa kepastian. Deni sempat dibawa ke Polres Kepulauan Anambas. Ia diperiksa. Namun, hasilnya belum cukup untuk menjeratnya secara hukum. Tes narkoba pun menunjukkan hasil negatif.
Ia pun dipulangkan, meski tetap dalam pengawasan dan wajib lapor. Bagi Helin, proses hukum adalah hal yang harus dihadapi. Ia memilih kooperatif.
“Saya akan bawa anak saya kalau dibutuhkan. Kami siap mengikuti proses,” katanya tegas.
Kini, hari-hari Helin tak lagi sama
Ia masih harus menghadapi proses yang berjalan. Namun setidaknya, satu beban terberat telah terangkat anaknya telah kembali.
Di rumah sederhana itu, pelukan kembali terasa hangat. Suara yang sempat hilang kini kembali terdengar. Kisah Helin adalah tentang harapan yang tak padam. Tentang seorang ibu yang tak pernah berhenti mencari, meski dunia seakan tak memberi jawaban. Dan pada akhirnya, tentang cinta yang selalu menemukan jalan pulang. (***)
Reporter: Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY