Buka konten ini

BATAM (BP) – Tren peningkatan kasus campak secara nasional mulai menjadi perhatian serius. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam memastikan hingga kini belum ditemukan indikasi kejadian luar biasa (KLB) campak di wilayahnya.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) menunjukkan kondisi masih terkendali.
“Berdasarkan pemantauan SKDR, belum ada peningkatan signifikan yang mengarah ke KLB. Namun, tetap ada sinyal kewaspadaan di beberapa wilayah,” ujarnya, Selasa (31/3).
Meski demikian, Dinkes menilai potensi penularan tetap ada. Karena itu, langkah antisipasi terus diperkuat agar lonjakan kasus tidak terjadi.
Menindaklanjuti Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI tentang kewaspadaan penyakit campak, Dinkes Batam memperkuat pemantauan rutin melalui SKDR setiap pekan.
Setiap sinyal peringatan (alert) yang muncul langsung diverifikasi dan ditindaklanjuti dengan cepat. Bahkan, penyelidikan epidemiologi dilakukan maksimal dalam waktu 24 jam terhadap setiap kasus suspek.
“Kami juga meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik, hingga rumah sakit,” kata Didi.
Selain itu, Dinkes juga menggencarkan sweeping imunisasi serta imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Edukasi kepada masyarakat turut diperkuat, terutama terkait gejala campak dan pentingnya imunisasi.
Cakupan Imunisasi Masih Rendah
Di sisi lain, Dinkes mengakui cakupan imunisasi campak-rubella (MR) di Batam masih jauh dari target.
Data menunjukkan capaian imunisasi MR dosis pertama (usia 9 bulan) baru mencapai 16,7 persen. Sementara imunisasi lanjutan berada di angka 15,7 persen.
Rendahnya capaian tersebut terjadi di 12 kecamatan dan dipengaruhi oleh masih adanya penolakan dari sebagian orang tua. “Masih ada orang tua yang menolak anaknya diimunisasi. Ini menjadi tantangan utama,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, petugas kesehatan bersama kader terus melakukan sweeping guna menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Dinkes Batam mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit campak. Selain mudah menular, campak juga berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.
Pencegahan paling efektif, lanjut Didi, tetap melalui imunisasi lengkap.
“Kami berharap masyarakat lebih sadar dan mau melengkapi imunisasi anak. Ini penting untuk melindungi tidak hanya individu, tetapi juga lingkungan sekitar,” katanya.
Dengan pengawasan yang diperketat serta dukungan masyarakat, Dinkes optimistis Batam dapat terhindar dari lonjakan kasus maupun KLB campak di tengah tren peningkatan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.
Kasus Campak Turun 93%, Kematian Masih Terjadi
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan tren kasus campak nasional menunjukkan penurunan signifikan. Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus turun 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada awal tahun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan penurunan tersebut terjadi secara konsisten di sejumlah daerah.
“Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami lonjakan kasus pada akhir 2025 hingga awal 2026,” ujarnya, Selasa (31/3).
Ia menegaskan data tersebut telah tervalidasi, termasuk selama periode Lebaran, karena sistem surveilans tetap berjalan optimal.
Pemantauan dilakukan secara real time melalui metode New All Record (NAR) dan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari fasilitas kesehatan, yang kemudian diverifikasi dengan data dinas kesehatan daerah.
Meski tren kasus menurun, Kemenkes mencatat masih terdapat kasus kematian akibat campak. Sepanjang 2026, tercatat 10 kasus kematian secara nasional.
Salah satu kasus menimpa seorang dokter internsip di Kabupaten Cianjur berinisial AMW, 25, yang meninggal dunia pada 26 Maret 2026 akibat komplikasi campak pada jantung dan otak.
Korban diduga terpapar saat menangani pasien campak pada 8 Maret, namun tetap bekerja meski mengalami gejala demam sejak 18 Maret.
Kondisinya memburuk setelah muncul ruam pada 21 Maret, hingga mengalami penurunan kesadaran dan dirawat di ICU RS Cimacan. Hasil pemeriksaan laboratorium Biofarma mengonfirmasi korban positif campak.
Kasus ini terjadi saat Kabupaten Cianjur mencatat 15 suspek dan 10 kasus campak terkonfirmasi, dengan puncak kasus pada minggu ke-10.
Tak Hanya Anak, Dewasa Juga Berisiko
Kemenkes juga mencatat sekitar 8 persen kasus campak terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun.
Kelompok ini dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, terutama jika memiliki penyakit penyerta (komorbid) atau tingkat paparan yang tinggi.
Kemenkes mengingatkan, meskipun tren kasus menurun, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Pencegahan melalui imunisasi dan deteksi dini menjadi kunci untuk menekan penyebaran serta mencegah dampak fatal akibat penyakit tersebut. (*)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK