Buka konten ini

Denting rebab perlahan mengalun, disusul tabuhan gendang yang berirama tenang. Di panggung sederhana, kadang hanya beralaskan papan di halaman kampung, seorang penari melangkah pelan. Tangannya terentang lembut, geraknya seolah membuka pintu menuju dunia lama: dunia para raja, putri, dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BEGITULAH Mak Yong, teater tradisional Melayu yang memadukan tari, musik, nyanyian, dan lakon cerita. Seni pertunjukan ini tidak sekadar menghibur, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan identitas budaya Melayu.
Kini, kisah yang selama ini hidup di panggung-panggung kecil itu tengah menapaki jalan menuju pengakuan dunia.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia kembali mengusulkan tiga warisan budaya untuk masuk ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO. Ketiganya adalah Teater Mak Yong, Jaranan: Seni Pertunjukan dan Ritual, serta Tempe.
Untuk Mak Yong, pengusulannya dilakukan sebagai ekstensi dari tradisi yang sebelumnya telah diakui dari Malaysia.
Di Batam, pemerintah daerah turut mengambil peran dengan menelusuri dan mengumpulkan berbagai jejak keberadaan Mak Yong di tanah Melayu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan saat ini pihaknya sedang melengkapi berbagai data pendukung.
“Mak Yong itu masuk kategori Memory of the World (Memori Dunia). Kami sedang melengkapi data-datanya,” ujar Ardiwinata kepada Batam Pos, Senin (16/3).
Jejak yang dikumpulkan bukan sekadar catatan administratif. Pemerintah kota menghimpun beragam dokumentasi yang membuktikan keberadaan Mak Yong di wilayah Batam.
Mulai dari foto-foto pertunjukan, rekaman video, dokumen lama, hingga data para pelaku seni yang hingga kini masih aktif memainkan teater tradisional tersebut.
“Jejaknya kita kumpulkan semua. Foto, dokumen, video, juga data para pelakunya. Semua dimasukkan,” jelasnya.
Dokumen-dokumen itu nantinya akan diserahkan ke Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV untuk diverifikasi. Setelah itu, proses akan berlanjut ke tingkat nasional sebelum diajukan secara resmi ke UNESCO.
Teater Melayu yang Hidup dalam Cerita
Mak Yong bukan sekadar tarian atau drama panggung biasa. Ia merupakan seni pertunjukan yang memadukan berbagai unsur sekaligus —tari, musik, nyanyian, dialog, hingga lakon cerita.
Dalam satu pertunjukan, penonton bisa menyaksikan kisah kerajaan, legenda rakyat, hingga cerita tentang perjalanan hidup manusia. Para pemain memerankan berbagai tokoh, mulai dari raja, putri, hulubalang, hingga tokoh-tokoh jenaka yang membuat suasana panggung terasa hidup.
Di Batam, salah satu kelompok yang masih mempertahankan seni ini dikenal dengan nama Sanggar Mak Yong Pantai Basri, sebuah sanggar yang rutin menampilkan pertunjukan Mak Yong dalam berbagai acara budaya Melayu.
Ardiwinata bahkan masih mengingat salah satu lakon yang pernah sangat populer di kalangan penonton.
“Ada satu cerita yang dulu sangat diminati, yaitu Putri Siput Kundang. Itu sangat disukai penonton,” ujarnya.
Dari Indo-Cina ke Tanah Melayu
Sejarah Mak Yong sendiri terbentang panjang. Dalam berbagai catatan kebudayaan, seni ini diyakini memiliki akar dari kawasan Indo-Cina yang kemudian berkembang luas di wilayah Melayu.
Seiring perjalanan waktu, Mak Yong menyebar dan tumbuh di berbagai daerah seperti Sumatera Utara, Riau, hingga Kepulauan Riau.
Di tengah derasnya arus hiburan modern, seni tradisional ini tetap bertahan. Setiap kali ada festival seni atau perhelatan budaya Melayu di Batam, Mak Yong masih kerap dihadirkan sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
Menunggu Pengakuan Dunia
Setelah seluruh data terkumpul, proses pengusulan akan melalui tahapan di tingkat provinsi dan pemerintah pusat. Jika dokumen dinyatakan lengkap, pengajuan akan dilanjutkan ke UNESCO.
Selain Mak Yong, dua warisan budaya lain diajukan Indonesia tahun ini adalah Jaranan—yang diusulkan bersama Suriname—serta Tempe, makanan tradisional yang telah dikenal luas di berbagai negara.
“Itu didaftarkan bersama Tempe dan Jaranan. Kita tinggal menunggu prosesnya,” kata Ardiwinata.
Legenda Penari dari Batam
Di Batam sendiri, perjalanan Mak Yong juga tidak lepas dari peran para seniman yang setia menjaganya tetap hidup.
Salah satu nama yang dikenang adalah Mak Nurma, penari Mak Yong yang dikenal luas sebagai legenda seni Melayu di daerah ini. Dedikasinya dalam melestarikan tradisi membuatnya pernah menerima penghargaan Batam Madani dari Pemerintah Kota Batam.
Di tengah wajah Batam sebagai kota industri yang terus tumbuh, seni seperti Mak Yong mungkin tampak sederhana. Namun di balik setiap gerak tari dan alunan musiknya, tersimpan sejarah panjang, ingatan kolektif, serta identitas budaya yang diwariskan dari masa lalu kepada generasi hari ini. (***)
Reporter : M. SYA’BAN
Editor : RATNA IRTATIK