Buka konten ini
BATAM KOTA (BP) – Serangkaian kasus kekerasan seksual sesama jenis yang menyasar pelajar di Kota Batam belakangan ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Sejumlah kasus yang terungkap ke publik memicu reaksi keras warga, terutama di media sosial yang dipenuhi kecaman terhadap para pelaku.
Tidak sedikit warga Batam menyoroti maraknya kasus tersebut dan mengutuk keras tindakan penyimpangan seksual yang menjadikan anak-anak sebagai korban. Komentar bernada kesal hingga marah kerap muncul setiap kali informasi mengenai kasus pencabulan terhadap pelajar beredar di ruang publik.
Selain mengecam pelaku, banyak warganet juga menyuarakan kekhawatiran terhadap kondisi para korban. Mereka menilai anak-anak yang mengalami kekerasan seksual berpotensi mengalami trauma berkepanjangan apabila tidak mendapatkan pendampingan serta penanganan psikologis yang tepat.
Di tengah sorotan publik tersebut, aparat kepolisian memastikan proses penanganan hukum terus berjalan. Kapolresta Barelang, Anggoro Wicaksono, menegaskan pihaknya tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga melakukan langkah pencegahan melalui pembinaan kepada masyarakat.
“Kami terus melakukan upaya pembinaan, termasuk memberikan penyuluhan untuk mencegah penyimpangan perilaku serta mengajak masyarakat meningkatkan iman dan takwa,” ujar Anggoro.
Ia menjelaskan, kegiatan penyuluhan tersebut secara rutin dilakukan oleh Satuan Binmas Polresta Barelang bersama polsek jajaran. Program ini menyasar masyarakat, termasuk lingkungan sekolah, guna memberikan pemahaman mengenai bahaya penyimpangan perilaku yang dapat merugikan anak-anak.
Menurut Anggoro, peran keluarga menjadi faktor utama dalam mencegah terjadinya penyimpangan perilaku di kalangan anak dan remaja. Ia menekankan pentingnya pengawasan orang tua serta pendidikan agama dalam membentuk karakter anak sejak dini.
“Kurangnya iman juga menjadi salah satu faktor, sehingga pendidikan agama sangat penting,” katanya.
Terkait kemungkinan adanya kurikulum khusus di sekolah untuk mencegah penyimpangan perilaku, Anggoro menyebut pihaknya perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan instansi terkait, termasuk pihak sekolah dan Dinas Pendidikan.
“Untuk itu kami harus berkoordinasi dengan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, perkembangan terbaru kasus dugaan pencabulan terhadap pelajar di salah satu SMP di kawasan Bengkong masih terus didalami oleh penyidik Satreskrim Polresta Barelang. Terduga pelaku diketahui merupakan warga negara asing (WNA) yang saat ini masih dalam proses pelacakan oleh pihak kepolisian.
Selain kasus di Bengkong tersebut, beberapa perkara kekerasan seksual terhadap pelajar di Batam sebelumnya juga sempat terungkap. Di antaranya kasus seorang guru SMK yang ditangkap Polsek Batu Aji karena diduga mencabuli muridnya.
Serangkaian kasus tersebut menjadi pengingat bagi semua pihak akan pentingnya pengawasan, edukasi, serta sistem perlindungan yang kuat untuk menjaga keselamatan anak-anak, khususnya di lingkungan pendidikan. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : GALIH ADI SAPUTRO