Buka konten ini

KETERBATASAN sumber air baku mendorong BP Batam mulai menjajaki pemanfaatan teknologi desalinasi sebagai alternatif penyediaan air bersih di masa depan. Teknologi yang mengolah air laut menjadi air tawar tersebut dipelajari sebagai solusi untuk memperkuat pasokan air di tengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas industri di Kota Batam.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan bahwa pasokan air bersih di Batam hingga saat ini masih sangat bergantung pada waduk yang menampung air hujan. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan serta kondisi lingkungan di kawasan daerah tangkapan air.
“Ketergantungan pada waduk membuat ketersediaan air sangat bergantung pada cuaca. Karena itu, kami mulai mempelajari kemungkinan pembangunan fasilitas desalinasi sebagai salah satu solusi jangka panjang,” kata Ariastuty beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi desalinasi berpotensi menjadi sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menopang aktivitas sektor industri yang terus berkembang di Batam.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, pembangunan fasilitas desalinasi diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp3 triliun. Dengan nilai investasi tersebut, instalasi yang dirancang diproyeksikan mampu memproduksi air bersih hingga sekitar 2.600 liter per detik.
Namun demikian, pengolahan air laut menjadi air tawar melalui teknologi desalinasi membutuhkan biaya produksi yang relatif tinggi. Berdasarkan perhitungan awal, biaya produksi air diperkirakan berkisar antara Rp28 ribu hingga Rp30 ribu per meter kubik. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi air bersih yang bersumber dari waduk.
Saat ini BP Batam masih mempelajari berbagai skema investasi yang memungkinkan untuk merealisasikan pembangunan fasilitas tersebut. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta.
Teknologi desalinasi sendiri telah diterapkan di sejumlah negara yang memiliki keterbatasan sumber air tawar, seperti Singapura, Uni Emirat Arab, dan Turki, untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya.
Di Batam, kebutuhan air bersih selama ini sepenu hnya dipasok dari waduk yang menampung air hujan sebelum diolah dan didistribusikan kepada pelanggan. Wilayah ini tidak memiliki sumber air alami seperti sungai besar maupun mata air yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO