Buka konten ini
TEHERAN (BP) – Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Teheran menegaskan tidak akan membiarkan setetes pun minyak dari kawasan tersebut diekspor ke negara yang dianggap bermusuhan.
Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ali Mohammad Naini. Ia menegaskan langkah tersebut akan berlaku selama agresi terhadap Iran masih berlangsung.
“Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata Naini seperti dilansir Antara, Rabu (11/3).
Ia juga menilai upaya pihak lawan menekan atau mengendalikan harga minyak dan gas dunia hanya akan bersifat sementara. Menurutnya, Iran saat ini masih memegang kendali atas dinamika konflik yang sedang berlangsung.
Naini bahkan menegaskan Iran yang akan menentukan kapan konflik tersebut berakhir.
Ia juga membantah klaim sejumlah pejabat Amerika Serikat yang menyebut kemampuan rudal Iran melemah. Sebaliknya, Iran disebut akan meningkatkan kekuatan serangannya.
Menurutnya, Iran akan mulai meluncurkan rudal dengan daya hancur lebih besar, termasuk hulu ledak dengan bobot sedikitnya satu ton.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan merusak sejumlah fasilitas dan menimbulkan korban sipil.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Washington dan Tel Aviv sebelumnya menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka nilai berasal dari program nuklir Iran. Namun dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Di tengah konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Peristiwa ini memicu reaksi dari sejumlah negara. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta mendesak deeskalasi segera di kawasan.
Iran Kecam Rancangan Resolusi DK PBB
Sementara itu, utusan Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, mengecam rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang didukung sejumlah negara Teluk.
Rancangan tersebut mengutuk serangan rudal dan drone Iran terhadap Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania serta menuntut penghentian segera semua serangan.
Menurut Iravani, rancangan resolusi itu justru berupaya membalikkan posisi korban dan agresor.
“Beberapa anggota Dewan berusaha membalikkan peran antara korban dan pelaku agresi,” kata Iravani dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York.
Ia menilai rancangan resolusi tersebut bersifat bias dan bermotif politik. “Jika diadopsi, resolusi ini akan merusak kredibilitas dan legitimasi Dewan Keamanan,” ujarnya.
Iravani juga memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya akan dirasakan Iran.
“Hari ini Iran, besok bisa negara berdaulat lainnya,” katanya.
Ia turut menyoroti dampak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran yang disebut menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil.
Menurut data yang disampaikan Iran, lebih dari 1.300 warga sipil menjadi korban. Selain itu, 9.669 lokasi sipil dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk 7.943 rumah tinggal serta 1.617 pusat komersial dan layanan.
570 Warga Sipil Tewas di Lebanon
Konflik di kawasan juga berdampak ke Lebanon. Pusat krisis Pemerintah Lebanon melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 570 orang sejak 2 Maret. Selain korban tewas, sebanyak 1.444 warga sipil lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Serangan tersebut terjadi setelah roket ditembakkan dari wilayah Lebanon ke arah Israel. Gerakan Syiah Lebanon, Hizbullah, mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Militer Israel kemudian membalas dengan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah padat penduduk di Lebanon, termasuk ibu kota Beirut.
Akibatnya, ratusan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di daerah yang dianggap lebih aman. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK