Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan bahwa pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis small modular reactor (SMR) perlu ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).
Penetapan ini dinilai penting untuk mendukung target operasi komersial pada 2032 sekaligus mempercepat transisi energi dan pencapaian dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.
“Apabila proyek ini dapat dimasukkan ke dalam PSN, tentu akan ada banyak prosedur dan proses yang bisa membuat pengembangan PLTN serta reaktor nuklir kecil dan menengah menjadi jauh lebih mudah,” katanya dalam pembukaan Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia di Jakarta, Selasa.
Pemerintah menargetkan kapasitas nuklir mencapai 500 MW pada 2032–2033 dan 35 GW pada 2060, sesuai dengan Rencana Umum Tenaga Nuklir (RUTN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Komitmen pembangunan PLTN juga telah dituangkan dalam RUPTL PLN 2025–2034, dengan rencana pembangunan dua unit masing-masing berkapasitas 250 MW di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.
Model pengembangan yang dipertimbangkan pemerintah mengarah pada teknologi SMR, yang dinilai lebih fleksibel dari sisi kapasitas dan konstruksi.
Untuk mendukung target tersebut, DEN bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO) sebagai lembaga pelaksana program nuklir, yang masih menunggu persetujuan Presiden.
Satya menekankan dukungan politik tingkat tinggi dan harmonisasi regulasi lintas sektor menjadi syarat utama percepatan proyek. Ia juga mendorong peran universitas dan lembaga riset dalam kajian risiko strategis untuk mendukung pengembangan tahap awal PLTN di Indonesia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI