Buka konten ini

BINTAN (BP) – Kerusakan mobil pemadam kebakaran (damkar) milik UPT Damkar Tanjunguban membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Bintan bagian utara tidak berjalan maksimal.
Kepala UPT Damkar Tanjunguban, Panyodi, mengatakan kerusakan armada tersebut mulai terdeteksi saat petugas memadamkan kebakaran lahan di Jalan Indunsuri, Tanjunguban, Rabu (4/2) malam. “Gejalanya kopling ditekan tidak kembali dan persneling susah masuk gigi,” ujar Panyodi, Kamis (5/2).
Petugas sempat menambahkan minyak rem, namun justru volume minyak berkurang. Dari situ, kata Panyodi, pihaknya memastikan ada kerusakan serius pada kendaraan tersebut.
“Kami sudah yakin ada yang tidak beres,” tambahnya.
Kerusakan itu telah dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan. Saat ini, mobil damkar tersebut tengah menjalani perbaikan di kantor UPT Damkar Tanjunguban dengan mendatangkan mekanik dari bengkel di Tanjungpinang.
“Kami sudah lapor ke kantor, dan mekanik dari Tanjungpinang datang langsung ke sini untuk perbaikan,” katanya.
Panyodi menjelaskan, UPT Damkar Tanjunguban hanya memiliki satu unit armada. Akibatnya, saat armada tersebut rusak, tidak tersedia kendaraan pengganti untuk operasional.
“Inilah alasan kami membutuhkan tambahan armada. Kalau satu unit rusak, masih ada armada cadangan,” ujarnya.
Selama masa perbaikan, pihaknya mengaku tidak dapat memberikan pelayanan pemadaman secara maksimal. Jika terjadi kebakaran, UPT Damkar Tanjunguban terpaksa meminta bantuan dari instansi lain.
“Kalau ada kejadian, kami akan minta bantuan ke instansi lain seperti Fasharkan atau Pertamina,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, Panyodi mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah. Ia menyebut, dalam satu hari bisa terjadi hingga empat titik kebakaran lahan di wilayah Tanjunguban dan sekitarnya.
“Kami berharap masyarakat memahami kondisi ini dan tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan kerugian besar, baik bagi masyarakat maupun lingkungan.
“Kami berharap masyarakat bisa bekerja sama dengan kami untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya. (*)
Reporter : Slamet Nofasusanto
Editor : GUSTIA BENNY