Buka konten ini

ANGGOTA DPR RI Dapil Kepri dari Partai Gerindra, Endipat Wijaya, tengah menjadi sorotan publik. Pernyataannya terkait donasi relawan untuk korban bencana di Sumatra Barat (Sumbar), Sumatra Utara (Sumut), dan Aceh memantik kritik luas di media sosial.
Warganet menilai sikap Endipat meremehkan kerja-kerja solidaritas masyarakat di tengah situasi darurat kemanusiaan.
Endipat, yang berasal dari Bengkulu namun terpilih lewat Dapil Kepri, dikecam karena dalam video yang beredar ia menyebut donasi relawan dan penggalangan dana publik seolah tidak signifikan dan bernuansa pencitraan. Kritik itu memicu kemarahan publik yang menilai pernyataannya tidak menunjukkan empati terhadap para korban.
Akademisi Kepri sekaligus Ketua III Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Zamzami A. Karim, menjadi salah satu pihak yang menyampaikan kritik keras. Ia menilai pernyataan Endipat bukan hanya tidak etis, tetapi juga mempermalukan masyarakat Kepri yang telah memberikan amanah sebagai wakil rakyat.
“Tentu malu kita sebagai orang Kepri punya wakil rakyat di DPR RI, tapi pernyataannya tidak menunjukkan sensitivitas atau simpati atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra,” ujarnya, Selasa (9/12).
Menurut Zamzami, pernyataan Endipat tidak hanya mengkritik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), tetapi juga menggiring kesan bahwa donasi masyarakat, relawan, dan kelompok civil society tidak berarti apa-apa.
“Kalau dengar videonya, jelas sekali ia menganggap apa yang dilakukan para relawan hanya pencitraan. Itu kesan yang muncul,” tegasnya.
Padahal, kata dia, relawan dan masyarakat bergerak cepat justru karena ada kekosongan respons pemerintah pada fase awal penanganan bencana. Dalam situasi seperti itu, solidaritas warga menjadi penopang utama.
“Kalau mau mengkritik Komdigi karena dinilai lambat, ya cukup itu saja. Tidak perlu menyindir para penggiat media sosial yang menggalang dana dengan cepat,” katanya.
Zamzami juga menyoroti pernyataan yang menyebut pemerintah “berdonasi” untuk korban bencana. Ia menilai diksi itu keliru.
“Pemerintah tidak berdonasi. Pemerintah punya kewajiban melindungi dan membantu rakyat. Kalau itu disebut donasi, berarti tidak paham konsep bernegara,” jelasnya.
Sebagai putra daerah Kepri, Zamzami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sumbar, Sumut, dan Aceh yang sedang berduka. Ia menegaskan bahwa pandangan Endipat tidak mewakili suara masyarakat Kepri.
“Saya sungguh malu. Mohon maaf kepada saudara-saudara kita yang sedang berduka. Sayang sekali saudara Endipat membuat pernyataan seperti itu,” katanya.
Zamzami turut menambahkan bahwa Endipat bukan figur yang dikenal luas oleh publik Kepri, sehingga sikap kontroversialnya kian memperlebar jarak dengan masyarakat yang diwakilinya.
“Masyarakat Kepri sebenarnya tidak begitu kenal dia. Bisa terpilih lewat Dapil Kepri saja sudah harus bersyukur. Seolah hanya mengambil suara rakyat Kepri untuk duduk di DPR RI,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Batam, Sudirman El Batamy, melalui akun media sosialnya menilai pernyataan Endipat menunjukkan sikap abai terhadap semangat gotong royong dan minim empati terhadap kesulitan para korban bencana.
Kritik ini turut viral di media sosial dan memicu perdebatan luas mengenai peran negara serta kontribusi masyarakat dalam penanganan musibah.
Kecaman Sudirman juga berawal dari pernyataan Endipat yang menyoroti dana bantuan relawan, yang dilaporkan mencapai sekitar Rp10 miliar. Endipat menyebut jumlah itu tidak signifikan bila dibandingkan bantuan pemerintah yang mencapai triliunan rupiah. Menurut Endipat, perbandingan tersebut perlu disampaikan untuk menepis narasi bahwa “negara tidak hadir” dalam penanganan bencana.
Namun, Sudirman menilai pernyataan itu keliru dan menyesatkan. Ia menegaskan bahwa membandingkan donasi sukarela dari masyarakat dengan anggaran negara adalah kekeliruan mendasar. Donasi publik, menurutnya, adalah manifestasi solidaritas murni dan nilai kemanusiaan yang seharusnya diapresiasi, bukan dipertentangkan.
“Ini bukan soal angka atau kompetisi antara Rp10 miliar dan triliunan rupiah. Ini soal hati nurani. Negara punya kewajiban, sementara masyarakat bergerak karena kepedulian. Sikap meremehkan upaya relawan sama saja mencederai semangat kebersamaan bangsa,” ujar Sudirman dalam pernyataannya.
Ia juga mempertanyakan motivasi Endipat mengeluarkan pernyataan yang terkesan menyudutkan inisiatif bantuan relawan tersebut. Sudirman mendesak pejabat publik lebih berhati-hati dalam berbicara, terutama terkait isu kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa setiap kontribusi—besar maupun kecil—memiliki peran penting dalam pemulihan pascabencana, dan bahwa sinergi antara negara dan rakyat adalah kunci, bukan persaingan.
Ferry Irwandi: Tidak Tersinggung, Sudah Saling Memaafkan
Sementara itu, kreator konten sekaligus pegiat sosial, Ferry Irwandi, juga memberikan tanggapan atas pernyataan Endipat saat rapat bersama Komdigi. Ferry menegaskan dirinya tidak merasa tersinggung ataupun marah.
Dalam unggahan di akun Instagram miliknya, Ferry menyebut dukungan publik justru menjadi penguat.
“Saya sama sekali tidak merasa marah dan kesal. Berkat dukungan luar biasa dari kawan-kawan semua, tidak mungkin seseorang marah saat mendapat dukungan sebesar ini,” tulis Ferry.
Ia juga menyampaikan bahwa Endipat telah menghubunginya secara pribadi dan meminta maaf. Ferry menyatakan telah menerima permintaan maaf itu karena tidak ingin memelihara konflik di tengah situasi bangsa yang sedang menghadapi banyak tantangan.
“Beliau sudah menghubungi saya dan minta maaf. Saya menerima, karena memang tidak ada niat memelihara konflik,” ujarnya.
Ferry mengaku turut menyampaikan sejumlah catatan dan kebutuhan masyarakat di lapangan, dan menyebut Endipat menerima aspirasi tersebut.
“Saya sudah sampaikan beberapa concern dan kebutuhan masyarakat. Beliau menerima,” tulisnya.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak publik melangkah ke depan dan memanfaatkan energi dukungan yang besar untuk hal-hal produktif.
“Buat yang bertanya soal respons saya, itu saja. Mari beranjak, kawan-kawan. Dukungan kalian sangat menguatkan banyak pihak. Terima kasih,” tulis Ferry.
Ngaku Tak Niat Singgung Relawan
Sementara itu, setelah ucapannya viral dan memicu kecaman dari berbagai kalangan, Endipat akhirnya memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pernyataannya bukan ditujukan kepada para relawan atau donatur yang membantu korban bencana di Sumatra.
Kritiknya, kata dia, diarahkan kepada kinerja Komdigi, khususnya terkait publikasi serta penyebaran informasi mengenai langkah-langkah penanganan bencana oleh pemerintah.
“Yang saya soroti adalah lemahnya komunikasi publik. Negara bekerja besar, tetapi tidak banyak diberitakan. Akibatnya, masyarakat hanya melihat apa yang viral, bukan apa yang sebenarnya dilakukan di lapangan,” ujar Endipat.
Ia menegaskan tidak pernah berniat mengecilkan peran relawan. Menurutnya, para relawan justru layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya atas ketulusan dan kecepatan mereka hadir di lokasi bencana.
“Relawan bekerja dengan hati, negara bekerja dengan kewajiban. Dua-duanya penting dan tidak boleh dipertentangkan,” katanya.
Dengan klarifikasi itu, Endipat berharap perhatian publik kembali tertuju pada upaya bersama dalam mempercepat penanganan bencana. (***)
Reporter : ARJUNA – FISKA JUANDA
Editor : RATNA IRTATIK