Buka konten ini

Angin yang berhembus di tepi laut Tanjungpinang sering membawa cerita sejarah heroik tempo dulu. Di balik gelombang laut, kapal penumpang, dan pompong yang hilir-mudik, tersimpan kisah seorang panglima perang legendaris. Namanya harum dalam ingatan, bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga simbol keberanian dan semangat mempertahankan tanah Melayu.
PANGLIMA itu adalah Raja Haji Fisabilillah, lahir sekitar 1725 di Hulu Riau, Tanjungpinang. Ia tumbuh besar di lingkungan Kesultanan Riau-Lingga, ditempa oleh budaya Melayu dan pendidikan agama Islam. Sejak muda, Raja Haji dibekali ilmu strategi kepemimpinan, pergaulan antar-kerajaan Nusantara, serta naluri kepemimpinan yang kuat di medan perang.
Sebagai Yang Dipertuan Muda Riau, ia memegang peran strategis dalam pertahanan Selat Malaka, jalur perdagangan utama dunia yang kerap menjadi incaran bangsa asing. Ketika kolonial berusaha menguatkan cengkeraman ekonomi dan kekuasaan, Raja Haji tidak pernah rela martabat bangsa diinjak musuh.
Diplomasi hanya satu sisi, perlawanan nyata diwujudkan di medan perang.
Perang terbesar dalam hidupnya terjadi pada Perang Riau 1782-1784. Armada perang Raja Haji berpangkalan di Pulau Bayan, Pulau Penyengat, dan Tanjungpinang. Ia memimpin langsung pasukan, menghadang laju kapal musuh yang mencoba menguasai wilayah kerajaan.
“Terjadilah pertempuran heroik di sekitar perairan Tanjungpinang-Pulau Penyengat. Puncaknya pada 6 Januari 1784,” jelas Peneliti Sejarah Dedi Arman dari BRIN.
Selama hampir dua tahun, Raja Haji dan pasukannya menorehkan kemenangan.
Kapal komando musuh, Malaka’s Wal Faren, hancur lebur, memaksa pasukan penjajah mundur dari perairan Tanjungpinang. Beberapa bulan kemudian, Raja Haji memimpin serangan ke Malaka, pusat pertahanan Belanda. Sayangnya, meski pasukannya gagah berani, Raja Haji gugur syahid dalam peperangan itu, sementara musuh dengan enam kapal, 326 meriam, dan 2.130 prajurit berhasil mengalahkan pasukan kerajaan.
Setelah kolonial berkuasa tahun 1785, Kota Tanjungpinang dijadikan pangkalan militer dan pusat pemerintahan Residentie Riouw en Onderhoriheden (Residen Riau).
Warisan Dalam Jati Diri Tanjungpinang
Jenazah Raja Haji dimakamkan di Pulau Penyengat Tanjungpinang, pulau kecil yang kini menjadi saksi historis dan pusat kebudayaan Melayu. Makamnya berdiri teduh, menjadi tempat ziarah dan renungan bagi siapa saja yang ingin menapak jejak sang pahlawan.
Namanya diabadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Bandara internasional di Tanjungpinang hingga jalan utama di berbagai daerah di Kepulauan Riau pun mengusung namanya, sebagai tanda kebanggaan dan penghormatan.
Namun, warisan terbesar Raja Haji bukanlah nama yang terukir pada bangunan, melainkan semangatnya. Semangat mempertahankan martabat bangsa, memperjuangkan kedaulatan, dan menjaga kebudayaan Melayu tetap tegak.
Kini, di tengah modernitas, kisah heroik Raja Haji Fisabilillah menjadi pengingat bahwa identitas bukan sekadar simbol, tetapi akar yang tertanam melalui perjuangan panjang pahlawan yang rela berkorban demi bangsa. Kota Tanjungpinang terus berkembang, namun setiap ombak yang menyentuh pesisir seolah membisikkan kembali gema langkah sang panglima legendaris. “Pemerintah pusat akhirnya menobatkan Raja Haji Fisabilillah sebagai Pahlawan Nasional pada Agustus 1997, berdasarkan keputusan Presiden nomor 072/TK/1997,” ungkap Dedi Arman.
Jejak kepahlawanan Raja Haji Fisabilillah tetap terukir dalam sejarah perlawanan terhadap musuh, dan namanya akan selalu menjadi simbol keberanian bangsa Melayu. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RATNA IRTATIK