Buka konten ini
BATAM (BP) – Kekhawatiran melanda warga Taman Raya bawah, Batam Kota. Timbunan tanah hasil aktivitas cut and fill di kawasan atas membuat mereka cemas. Pasalnya, wilayah itu sudah lama dikenal rawan banjir, dan kini tanah-tanah hasil galian justru ditumpuk di area dekat permukiman warga.
Ketua Tengku Sulung Squat, Rahman Yasir, mengatakan, aktivitas pemotongan tanah di kawasan Taman Raya atas sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Informasinya, lahan itu akan dibangun deretan ruko. Namun, tanah hasil pemotongan justru ditimbun di kawasan bawah—yang tak lain masih milik pengembang.
“Yang di atas itu sedang proses pemotongan karena mau dibangun ruko. Nah, tanahnya dibuang ke bawah, di Taman Raya bawah, karena lahan di situ milik mereka juga,” ujar Rahman, Senin (3/11).
Awalnya, warga tidak mempermasalahkan karena mengira hanya penimbunan ringan. Namun, seiring waktu, volume tanah terus bertambah hingga hampir sejajar dengan jalan dan atap rumah warga.
“Dulu warga pikir cuma buang puing sedikit. Tapi lama-lama makin tinggi, bahkan hampir rata dengan atap rumah,” katanya.
Kondisi itu membuat warga panik. Sebab, Taman Raya bawah merupakan daerah langganan banjir. “Kalau hujan sedikit saja sudah tergenang. Sekarang dengan timbunan setinggi itu, air mau lari ke mana lagi? Semua resapan tertutup,” ucap Rahman.
Kekhawatiran warga berujung aksi protes pada Jumat (31/10) lalu. Mereka meminta aktivitas penimbunan dihentikan dan tanah yang sudah dibuang dikembalikan seperti semula. Aktivitas sempat berhenti sehari, namun dilanjutkan lagi keesokan harinya.
“Warga sudah minta supaya tanah itu diangkut lagi. Kalau dibiarkan, ini bisa makin parah. Sudah langganan banjir, sekarang tambah timbunan, bisa tenggelam rumah kami. Kemarin sempat jalan lagi, warga langsung protes,” tutur Rahman.
Ia mengatakan, hasil komunikasi sementara dengan pihak pengembang menyebut penimbunan telah dihentikan. Namun, dokumen resmi izin cut and fill belum juga diterima warga.
“Kami sudah minta salinan izinnya, tapi belum dikasih. Teman yang cek ke BP Batam bilang, izinnya atas nama perusahaan itu belum ada,” kata Rahman.
Dua perusahaan disebut terlibat dalam aktivitas tersebut, yakni PT DMS dan PT RGL, yang diketahui berada dalam satu kelompok usaha. Akibat kegiatan itu, warga mulai merasakan dampak langsung. Jalanan di sekitar lokasi menjadi berdebu saat panas dan berubah becek ketika hujan.
“Sudah ada warga yang jatuh karena jalan licin,” ujarnya.
Sedikitnya 50 rumah di lima blok kawasan Taman Raya bawah kini terancam banjir lebih parah jika aktivitas penimbunan terus berlangsung.
“Setiap hujan, air bisa sampai 30–50 sentimeter. Sekarang warga sudah siaga kalau langit mulai gelap,” kata Rahman.
Ia berharap pemerintah turun tangan dan menindak tegas kegiatan cut and fill yang tidak berizin itu.
“Kami minta pemerintah tegas. Kalau memang tak ada izin, hentikan total. Jangan tunggu warga kebanjiran baru bergerak,” tegasnya. (*)
Reporter : Yashinta
Editor : Ratna Irtatik